Sabtu, 06 April 2013

FAEDAH 8 SURAH AL-FATIHAH (SELESAI)

2
Cetak
  faedah surat al fatihah 8Kita telah menginjak faedah Al Fatihah serial terakhir. Dalam serial terakhir kali ini kita akan merenungkan kembali surat Al Fatihah secara umum. Di antara kandungannya, ternyata kita dapat semakin mengenal Allah dan semakin mengenal diri yang begitu lemah. Semakin Mengenal Allah dan Semakin Mengenal Diri
Jika kita merenungkan kembali surat Al Fatihah, kita dapat semakin mengenal Allah secara sempurna melalui nama dan sifat-Nya yang sempurna. Juga kita akan semakin tahu bahwa Allah pun jauh dari sifat kekurangan. Sehingga dari pengenalan seperti ini semakin bertambah keimanan dan keyakinan kita.
Juga melalui surat Al Fatihah kita pun akan semakin mengenal diri bahwa diri ini begitu lemah. Kita pun sangat butuh pada Allah Ta’ala. Oleh karenanya, kita terus membaca surat Al Fatihah berulang-ulang setiap raka’at karena kita sangat butuh pada surat ini. Karena dalam surat ini terdapat do’a yang bermanfaat yaitu doa memohon taufik Allah yang jika doa ini terkabul, kita dapat bahagia di dunia dan di akhirat. Namun surat ini bisa bermanfaat jika kita mau merenungkan atau mentadabburinya. Kata Ibnul Qayyim dalam Al Qoshidah An Nuniyyah,
فتدبر القرآن ان رمت الهدى*** فالعلم تحت تدبر القرآن
“Renungkanlah Al Qur’an jika engkau ingin memperoleh petunjuk, karena ilmu didapati dengan merenungkan Al Qur’an”
Jika Al Fatihah Semakin Direnungkan
Jika ada Rabb yang mentarbiyah (mengatur), maka tentu ada makhluk yang ditarbiyah.
Jika ada Allah yang Maha Penyayang, maka tentu ada yang disayang.
Jika ada Yang Maha Menguasai, maka tentu ada yang dikuasai.
Jika ada hamba, maka tentu ada yang disembah, yaitu Allah.
Jika ada Yang Memberi Petunjuk, maka tentu ada yang mendapat petunjuk.
Jika ada Yang Memberikan Nikmat (mun’im), maka tentu ada yang diberi nikmat.
Jika ada yang dimurkai (magdhub ‘alaihim), maka tentu ada yang murka, yaitu Allah.
Jika ada yang sesat (dhollun), maka tentu ada yang menyesatkan, yaitu Allah.
Pelajaran  tauhid uluhiyah, rububiyyah dan penunjukkan bahwa Allah bersih dari kekurangan, juga kandungan pengenalan dan rukun ibadah telah ada dalam surat Al Fatihah.
Wallahu a’lam. Wa shallallahu wa sallam ‘ala nabiyyina Muhammad.

FAEDAH 7 SURAH AL-FATIHAH

3
Cetak
  faedah_surat_al_fatihah_7Di antara faedah surat Al Fatihah yaitu terbaginya manusia menjadi tiga golongan. Ada manusia yang dimurkai karena berilmu namun engggan mengamalkan ilmunya. Ada manusia yang sesat karena beramal asal-asalan tanpa didasari ilmu. Ada manusia jenis ketiga, yaitu yang diberi ilmu dan mengamalkan ilmunya yaitu manusia yang diberi nikmat. Faedah ini disebutkan dalam ayat,
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)
Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al Fatihah: 6-7).
Jalan yang lurus itulah yang senantiasa kita minta pada Allah. Jalan lurus inilah jalan orang yang diberi nikmat, bukan jalan orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang yang sesat.
Golongan Orang yang Dimurkai
Inilah golongan pertama. Mereka adalah golongan yang dimurkai. Sifat mereka adalah orang yang berilmu namun enggan mengamalkan ilmunya. Merekalah Yahudi dan yang sejalan dengan mereka dari umat ini yang punya sifat memiliki ilmu, namun tidak mau mengamalkan ilmunya.
Golongan Orang yang Sesat
Golongan orang yang sesat, inilah yang kedua. Mereka adalah ahli ibadah, namun tidak memiliki ilmu. Mereka beribadah pada Allah, namun asal-asalan dengan membuat amalan tanpa tuntunan. Merelah orang sufi dan pelaku bid’ah. Mereka semua masuk dalam golongan yang sesat. Karena mereka sibuk dengan ibadah namun meninggalkan ilmu. Bahkan mereka sampai mengatakan bahwa dengan belajar malah bisa melalaikan dari ibadah.
Pelajaran Dilihat dari Umumnya Lafazh
Maksud ayat ‘maghdub ‘alaihim’ (orang yang dimurkai) adalah untuk kalangan Yahudi dan ‘dhoolliin’ (orang yang sesat) adalah untuk orang Nashrani. Namun ayat tersebut tidak berlaku pada mereka saja, namun setiap yang punya sifat yang sama dengan mereka. Para ulama berkata,
العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب
Pelajaran dapat dipetik dari keumuman lafazh, bukan dari kekhususan sebab.
Oleh karenanya pula, sebagian salaf mengatakan,
من فسد من علمائنا ففيه شبه من اليهود, ومن فسد من عبادنا ففيه شبه من النصارى
“Barangsiapa yang rusak dari ulama kita (yang berilmu), maka mereka punya keserupaan dengan Yahudi. Dan barangsiapa yang rusak dari ahli ibadah kita, maka mereka punya keserupaan dengan Nashrani.”
Golongan yang Memperoleh Nikmat
Golongan yang selamat adalah golongan yang ketiga ini. Mereka memiliki sifat berilmu dan beramal. Merekalah golongan yang diberi nikmat sebagaimana disebutkan pula dalam ayat lainnya,
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا
Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: para nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An Nisa’: 69). Jika kita ingin menjadi orang yang mendapatkan nikmat, maka kumpulkanlah sifat memiliki ilmu nafi’ (bermanfaat) dan beramal sholih.
Bukan Karena Upaya dan Kerja Keras Kita
Supaya menjadi golongan yang diberi nikmat adalah karunia dari Allah, bukan dari usaha kita. Oleh karenanya dalam surat Al Fatihah sudah disebutkan bahwa kita meminta pada Allah hidayah supaya berada di jalan yang lurus. Artinya, untuk berada di atas jalan tersebut hanya dengan karunia Allah, bukan karena daya dan upaya kita. Jadi Allah-lah yang memberi taufik untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat. Allah-lah yang memberi taufik untuk dapat beramal sholih. Jika Allah menghendaki tentu kita pun bisa menjadi orang yang dimurkai dan yang sesat. Jadi yang mengeluarkan dari dua golongan celaka tersebut adalah Allah. Dia-lah yang menjadikan kita dapat menempuh jalan para nabi, shiddiqin, syuhada’ dan orang sholih. Jadi bukan karena upaya dan kerja keras kita namun karena karunia dari Allah.
Ibnul Qayyim dalam Al Qosidah An Nuniyah mengatakan,
لو شاء ربك كنت أيضا مثلهم*** فالقلب بين أصابع الرحمن
“Jika Rabbmu mau tentu engkau akan semisal dengan mereka. Karena hati di antara jari jemari Ar Rahman (yaitu Allah)”
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang diberi nikmat, bukan termasuk yang dimurkai dan bukan pula yang sesat. Hanya Allah yang memberi hidayah.

Referensi:
Syarh Ba’du Fawaidh Surotil Fatihah, -guru kami- Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al Fauzan, terbitan Dar Al Imam Ahmad.
---
@ Pesantren Darush Sholihin, Panggang-Gunungkidul, 12 Jumadal Ula 1434 H
www.rumaysho.com

FAEDAH 6 SURAH AL-FATIHAH

Cetak
  faedah_surat_al_fatihah_6_hidayah_taufikDalam surat Al Fatihah yang terus kita baca pada shalat kita mengandung pelajaran bahwa ada dua macam hidayah yang terus kita minta pada Allah, yaitu hidayah supaya terus mendapatkan penjelasan kebenaran dan hidayah supaya dapat menerima kebenaran tersebut. Inilah yang akan kita kaji dalam faedah surat Al Fatihah selanjutnya. Ayat yang kita kaji saat ini adalah,
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
Tunjukilah (berilah hidayah) kami jalan yang lurus” (QS. Al Fatihah: 6).
Bid’ah Menyelisihi Jalan yang Lurus
Kata Syaikh Muhammad At Tamimi rahimahullah, ayat ini berisi bantahan terhadap orang yang berbuat bid’ah. Alasan dari maksud Syaikh Muhammad, karena bid’ah itu menyelisihi jalan yang lurus (shirotol mustaqim). Jalan Allah itu jalan yang lurus dan jelas untuk ditempuh. Allah Ta’ala berfirman,
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya.” (QS. Al An’am: 153). Jalan yang lurus itu satu, sedangkan jalan kesesatan itu banyak. Dan jalan yang lurus itulah yang kita ikuti.
Memahami Dua Macam Hidayah
Setelah Syaikh Muhammad menyampaikan faedah di atas, -guru kami- Syaikh Sholih Al Fauzan hafizhohullah menyampaikan pelajaran penting lainnya tentang masalah hidayah. Beliau menjelaskan bahwa hidayah itu ada dua macam:
1- Hidayah dalalah wa irsyad, yaitu memberikan penjelasan
2- Hidayah tawfiq wa tasdiid, yaitu menerima dan menjalankan kebenaran.
Hidayah yang pertama dimaksudkan untuk seluruh makhluk baik muslim maupun kafir, yaitu berupa penjelasan bagi mereka berupa kebenaran. Karena Allah telah menjelaskan kebenaran pada setiap makhluk, namun orang kafir enggan menerima. Allah Ta’ala berfirman,
وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى
“Dan adapun kaum Tsamud, maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk” (QS. Fushshilat: 17). Dalam ayat ini, petunjuk yang dimaksud adalah hidayah dalalah wa irsyad, yaitu berupa penjelasan. Hidayah semacam ini ditujukan pada seluruh makhluk sampai pun pada orang kafir seperti kaum Tsamud.
Adapun hidayah kedua adalah hidayah untuk menerima kebenaran atau untuk menjalankan penjelasan yang telah diberikan. Inilah yang disebut dengan hidayah taufik. Dan ini diberikan khusus pada orang beriman.
Sehingga dalam shalat kita ketika membaca Al Fatihah ini, maka berarti kita meminta pada Allah dua macam hidayah di atas.
Dalam dakwah atau mengajak yang lain dalam kebaikan, tugas kita hanyalah menyampaikan penjelasan (hidayah dalalah wal irsyad), sedangkan hidayah taufik untuk menerima kebenaran hanyalah pada kuasa Allah. Sampai pada orang yang kita cintai pun kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk hidayah taufik ini.
Semoga Allah memudahkan kita untuk terus berada di jalan yang lurus. Hanya Allah yang memberi taufik.

Referensi:
Syarh Ba’du Fawaidh Surotil Fatihah, -guru kami- Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al Fauzan, terbitan Dar Al Imam Ahmad.
---
@ Pesantren Darush Sholihin, Panggang-Gunungkidul, 11 Jumadal Ula 1434 H
www.rumaysho.com

Kamis, 04 April 2013

FAEDAH 5 SURAH AL-FATIHAH


  faedah_surat_al_fatihah_5Faedah berikutnya kita kaji dari ayat iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. Ayat ini mengandung makna di antaranya bahwa kita hanya beribadah kepada Allah saja, tidak boleh berbuat syirik kepada-Nya dengan sesuatu apa pun. Berikut ayat yang kita kaji faedahnya kali ini,
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan” (QS. Al Fatihah: 5)
Pelajaran Tauhid dari Iyyaka Na’bud wa Iyyaka Nasta’in
Dalam ayat iyyaka na’bud, hanya kepadaMu-lah kami beribadah terdapat kandungan tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah. Sedangkan dalam ayat iyyaka nasta’in (hanya kepadaMu-lah kami meminta pertolongan) terdapat kandungan tauhid rububiyah.
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan hamba yaitu ibadah hanya ditujukan pada Allah saja. Kandungan tauhid ini terdapat dalam iyyaka na’budu karena ayat ini berarti kita hanya menyerahkan ibadah kepada Allah saja.
Adapun tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan Allah, yaitu dalam hal penciptaan, pemberian rizki, pengatur alam semesta, dan penguasa jagad raya. Dan memberi pertolongan termasuk dalam perbuatan Allah. Pembahasan tauhid rububiyah ini terdapat dalam iyyaka nasta’in karena ayat ini berarti kita hanya meminta pertolongan pada Allah semaata. Sehingga dalam ayat kelima dari surat Al Fatihah terdapat kandungan dua macam tauhid yaitu tauhid uluhiyah dan tauhid rububiyah. Sehingga kita mesti mengesakan Allah dalam ibadah dan juga dalam perbuatan Allah.
Melanggar Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in
Kalau ada seseorang yang berbuat syirik pada Allah dengan memalingkan suatu ibadah, seperti dengan memberikan tumbal pada jin atau setan, menyajikan sedekah laut untuk makhluk ghaib semacam Nyi Roro Kidul, maka ia berarti telah melanggar ayat iyyaka na’budu yang minimal 17 kali dibaca dalam sehari pada shalat wajib.
Jika seseorang yakin bahwa ada selain Allah yang bisa memberikan pertolongan dalam menyelesaikan hajatnya di mana pertolongan tersebut hanya bisa dipenuhi oleh Allah seperti dalam mengabulkan do’a, memberikan barokah atau mendatangkan manfaat dan mudhorot (bahaya), maka ia telah melanggar tauhid rububiyah yang ia baca pada ayat iyyaka nasta’in. Karena satu-satunya yang bisa mengabulkan do’a, memberikan barokah serta mendatangkan manfaat dan mudhorot hanyalah Allah, tidak yang lainnya.
Hanya Allah yang memberi petunjuk dan hidayah untuk mentauhidkan-Nya dengan sebenarnya.

Referensi:
Syarh Ba’du Fawaidh Surotil Fatihah, -guru kami- Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al Fauzan, terbitan Dar Al Imam Ahmad.
---
@ Pesantren Darush Sholihin, Panggang-Gunungkidul, 8 Jumadal Ula 1434 H
www.rumaysho.com

Silakan follow status kami via Twitter @RumayshoCom, FB Muhammad Abduh Tuasikal dan FB Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat

Minggu, 31 Maret 2013

FAEDAH 4 SURAH AL-FATIHAH


  faedah_surat_al_fatihah_5Faedah berikutnya kita kaji dari ayat iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. Ayat ini mengandung makna di antaranya bahwa kita hanya beribadah kepada Allah saja, tidak boleh berbuat syirik kepada-Nya dengan sesuatu apa pun. Berikut ayat yang kita kaji faedahnya kali ini,
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan” (QS. Al Fatihah: 5)
Pelajaran Tauhid dari Iyyaka Na’bud wa Iyyaka Nasta’in
Dalam ayat iyyaka na’bud, hanya kepadaMu-lah kami beribadah terdapat kandungan tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah. Sedangkan dalam ayat iyyaka nasta’in (hanya kepadaMu-lah kami meminta pertolongan) terdapat kandungan tauhid rububiyah.
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan hamba yaitu ibadah hanya ditujukan pada Allah saja. Kandungan tauhid ini terdapat dalam iyyaka na’budu karena ayat ini berarti kita hanya menyerahkan ibadah kepada Allah saja.
Adapun tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan Allah, yaitu dalam hal penciptaan, pemberian rizki, pengatur alam semesta, dan penguasa jagad raya. Dan memberi pertolongan termasuk dalam perbuatan Allah. Pembahasan tauhid rububiyah ini terdapat dalam iyyaka nasta’in karena ayat ini berarti kita hanya meminta pertolongan pada Allah semaata. Sehingga dalam ayat kelima dari surat Al Fatihah terdapat kandungan dua macam tauhid yaitu tauhid uluhiyah dan tauhid rububiyah. Sehingga kita mesti mengesakan Allah dalam ibadah dan juga dalam perbuatan Allah.
Melanggar Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in
Kalau ada seseorang yang berbuat syirik pada Allah dengan memalingkan suatu ibadah, seperti dengan memberikan tumbal pada jin atau setan, menyajikan sedekah laut untuk makhluk ghaib semacam Nyi Roro Kidul, maka ia berarti telah melanggar ayat iyyaka na’budu yang minimal 17 kali dibaca dalam sehari pada shalat wajib.
Jika seseorang yakin bahwa ada selain Allah yang bisa memberikan pertolongan dalam menyelesaikan hajatnya di mana pertolongan tersebut hanya bisa dipenuhi oleh Allah seperti dalam mengabulkan do’a, memberikan barokah atau mendatangkan manfaat dan mudhorot (bahaya), maka ia telah melanggar tauhid rububiyah yang ia baca pada ayat iyyaka nasta’in. Karena satu-satunya yang bisa mengabulkan do’a, memberikan barokah serta mendatangkan manfaat dan mudhorot hanyalah Allah, tidak yang lainnya.
Hanya Allah yang memberi petunjuk dan hidayah untuk mentauhidkan-Nya dengan sebenarnya.

Referensi:
Syarh Ba’du Fawaidh Surotil Fatihah, -guru kami- Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al Fauzan, terbitan Dar Al Imam Ahmad.
---
@ Pesantren Darush Sholihin, Panggang-Gunungkidul, 8 Jumadal Ula 1434 H
www.rumaysho.com

Silakan follow status kami via Twitter @RumayshoCom, FB Muhammad Abduh Tuasikal dan FB Fans Page Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat