Kamis, 26 Desember 2013

SI KELINCI YANG PENAKUT

Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1 - SI KELINCI YANG PENAKUTManusia adalah mahluk sosial yang hidup saling bergantung satu sama lain. Walaupun ide hidup saling tolong menolong ini menyenangkan, namun sesungguhnya banyak konflik terjadi disana jika pengharapan kita tidak terpenuhi oleh lingkungan kita. Setiap manusia mempunyai masalah. Masalah ini akan semakin besar kala kita mulai membandingkajn diri kita dengan hal yang jauh lebih besar. Kita istimewa dan berhak mendapatkan kesuksesan apapun yang terjadi. Untuk itu mari kita simak ilustrasi cerita di bawah ini, agar kita tetap semangat menghadapi segala kemungkinan yang ada. Sejak dulu kelinci dikenal sebagai hewan bernyali kecil. Mereka sering ketakutan tanpa sebab jelas. Seringkali mereka menyingkir sesegera mungkin jika keamanannya terancam. Suatu hari nampaklah sekelompok kelinci tengah berkumpul di tepian sungai. Mereka berkeluh kesah meratapi nyali mereka yang kecil, mengeluh kehidupan mereka yang selalu dibayangi marabahaya. Semakin dalam mereka mengobrol, mereka pun semakin sedih d....
... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Rabu, 25 Desember 2013

Waspadai Simbol Dajjal

Waspadai Simbol Dajjal

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah Nasib yang pada diri mereka " (QS 13:11)




Menyelidiki kedatangan Dajjal,Imam Mahdi,Dan Kemunculan Kembali Nabi Isa (A.S). Dalam sebuah hadis Nabi Muhammad (saw) Dikatakan,
''Aku memperingatkan kalian untuk melawannya (Dajjal) dan tidak ada Nabi yang Memperingatkan Umatnya Untuk Melawan. Tapi Aku akan Mengatakan Sesuatu Yang Belum Pernah Diungkapkan Oleh Nabi Sebelumku.Kalian harus tahu Bahwa Ia Bermata Satu. Dan Allah Tidak Bermata Satu'' (Shaihih Sallahu Alaihi Wassalam).''
Hampir semua kebudayaan sudah meramalkan kedatangan Dajjal.Umat Kristiani Menyebutnya ''Anti-Christ''. Meskipun sebagian besar orang takut dengan Hal Itu,tapi tidak sedikit pula yang sudah mempersiapkan Diri Selama Ribuan Tahun Untuk Mengadakan Acara Penyambutan.
Sambil Menggelar Karpet Merah...Atau lebih tepatnya, menggelar karpet catur (Chekered), Dan Rahasia ini akan kami jelaskan pada bab Berikutnya.Tapi Sebenarnya Apakah tanda-tanda Kemunculan Si Mahluk Bermata Satu Itu ?
''Simbol Mata Satu (All-Seeing Eye) (Dajal) Sudah ada sejak ribuan tahun lalu sepertinya contohnya Simbol RA yang terdapat dalam artefak'' Mesir Kuno.Sejak abad pertengahan,Mata satu kini terserap dalam simbol-simbol Freemasonry (Perkumpulan Rahasia) yang digunakan dalam ritual mereka,dan Bahkan Dapat Dijumpai Sekarang Ini ''Mata Uang Satu Dolar''







Jika kita memperhatikan Dengan Jeli gambar mata dolar itu,maka akan tampak mata satu yang berjudul ''Novus Ordo Seclorum'' yang pengertiannya akan dijelaskan pada Bab Selanjutnya.Jika Anda Jeli,Simbol Ini Disekitar Kita seperti Gambar Program Televisi Anak'' Nicklodeon.







Dajjal Merambah Ke Acara Televisi Anak'' yang terkenal Nicklodeon
''Gambar Mata Satu Ini merupakan satu simbol Hieroglyph (aksara Mesir Kuno) yang berarti Dewa Ra/ Ré yang berarti Dewa matahari.Ra merupakan Dewa Tertinggi dalam kebudayaan Mesir Kuno Karena supremasi kekuasaanya meliputi alam semesta. Firaun masa lalu menghiba diri mereka terhadap Ra/Ra-Horakty (tatkala Ra & Horus bersatu atau merupakan satu jiwa).




''Ilustrasi Ra dapat ditemukan dalam Kitab'' Sihir & Pagan pada masa itu,bahkan sekarang pun dapar terlihat jelas dalam penampakan Mata uang dolar AS,simbol keagamaan,dan bahjkan dalam perkumpulan Rahasia Seperti Freemasonry & Illuminati''.
Tanda-tandanya Tidak hanya terbatas dalam ilustrasi mata satu,Namun juga berupa bangunan Fisik yang dibangun untuk melayani agenda mata satu,Yaitu sebuah tatanan Dunia baru yang lebih dikenal ''NEW WORLD ORDER''.salah satunya adalah menara Babel.




Kisah Menara Babel melambangkan keangkuhan, kesombongan manusia, disebut-sebut dalam Kitab Kejadian, Kitab Suci Perjanjian Lama. Pembangunan menara ini diprakarsai oleh Nimrod, anak cucu Nabi Nuh di zaman Babilon kuno, jauh tahun sebelum zaman Nebuchadnezzar. Orang tua Nimrod adalah Cush, putra Ham.





ONE DOLLAR
Kalau Di Lihat Dengan Kaca akan Tetulis ''OUR DAJJAL''
Our bahasa Ibrani artinya ''tanah'' Jadi tanah DAjjal.
Gambar Dibawah Ini adalah Gedung Parlemen Uni Eropa. Uni Eropa dibangun dengan Azas atau kepentingan yang sama dengan menara babel,Yaitu melayani kepentingan dunia baru (New World Order) dengan Mempersatukan dunia eropa ke dalam satu tujuan dan simbol supremasi Eropa Terhadap Dunia.



EU Parlimant,Eropa
Louvre Museum,France





Bangunan Piramida juga termasuk sebagai bangunan yang digunakan untuk melayani kepentingan sang Anti-Kristus Atau Dajjal. Seperti Piramida Mesir,Giza & Chinchen,Itza yang merupakan produk peradaban bangsa maya di amerika selatan.
Hard Rock Cafe,Kuwait

Kini,Bangunan itu ada dimana-mana untuk membuktikan Dajal berada disekitar kita.





Berapa Banyak Orang Yang Disucikan Oleh Keagungan Allah,Dan Berapa Banyak orang yang mengabdikan Hidupnya Untuk menjalankan rencana Dibuat yang Dibuat Oleh Setan ?
Perhatikan Surat Al-Baqarah ayat 102:
Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman "(dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir).
Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya.
Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui." Q.S Al-BAQARAH 102

Pada Tahun 1307, Raja Philippe dari prancis menangkap Mereka Dengan Tuduhan Penyangkal Terhadap Anti-Christ. 






Anti- Christ, Melakukan Hubungan Sesama Jenis dan Pemujaan Ilmu Sihir.ternyata maho
The Dome of the Rock (Arabic: مسجد قبة الصخرة‎, translet nya.: Masjid Qubbat As-Sakhrah,Inggris: Dome of the Rock) adalah tempat suci Islam dan marka tanah utama yang terletak di tengah-tengah di dalam tembok kompleks Al-Haram asy-Syarif, kompleks ini sendiri berada dalam tembok Kota Lama Yerusalem (Yerusalem Timur). Kubah Shakhrah ini selesai didirikan tahun 691,




menjadikannya bangunan Islam tertua yang masih ada di dunia.
Kubah Shakhrah bukanlah sebuah masjid, sebaliknya, merupakan sebuah kompleks yang terdapatnya sebuah batu besar yang dikatakan tempat
Nabi Muhammad berdiri ketika peristiwa Isra dan Mi'raj. Qubbat As-Sakhrah terletak di Baitulmuqaddis di kawasan Al-Haram asy-Syarif. Qubbat As-Sakhrah bukanlah Masjid Al-Aqsa karena Masjid Al-Aqsa terletak tidak jauh daripada bangunan ini. Qubbat Al-Sakhrah seringkali disalahartikan sebagai Masjid Omar yang merupakan tempat Saidina Umar Al-Khatab bershalat ketika tiba di Baitulmuqaddis.
Di Prancis sehingga Banyak dia antaranya melarikan diri keluar dari eropa daratan. Sebagian Dari MEreka Menetap DI Britania Raya Tepatnya Di Skotlandia dan Mendirikan Perkumpulan Rahasia Terkemuka Bernama ''FREEMASONRY''
Raja Philipe menginstrukan para agennya untuk menangkap Templar dan Mengeksekusi pada hari Jumat tepatnya Tanggal 13 Okteober 1307 sehingga dikenal dalam sejarah Eropa sebagai ''Black Friday'' atau Jumat Kelabu.Itulah Mengapa Sebagian Menganggap 13 Adalah Angka Sial dan Menghubungkan Jumat 13 dengan Peristiwa Menakutkan,Seperti Film ''Friday 13th''



Tatanan Dunia Baru




Bahkan mereka sudah melakukannya selama Berabad-Abad dari balik bayang-bayang. Mereka Memprakasai Perang, Perang Besar, Revolusi, dan Resensi Ekonomi. Mereka Mengontrol Semua Pikiran Kalian Dalam Baca, Mendengar, dan Lihat.
Dan Dari Politik Baru,Tatanan Ekonomi baru,Dan yang lebih Mengerikan,Agama Baru.
Bukti Dajal Dari Dasar Pembangunan Untuk Pengendalian Menyeluruh.!


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Haikal Sulaiman (Istana Nabi Sulaiman)

Istana Nabi Sulaiman

Haikal Sulaiman diduga berada di Masjid al-Aqsha.

Model Haikal Sulaiman

N
Abi Sulaiman Alaihisslam (AS) adalah putra dari Nabi Daud AS. Sulaiman dikenal sebagai nabi yang sangat kaya dan memiliki kelebihan yang sangat jarang dimiliki nabi-nabi sebelumnya. Kelebihannya itu antara lain ia bisa berbicara dengan seluruh binatang dan burung-burung, menaklukan angin, laut dan udara serta jin-jin pun tunduk dan patuh pada perintahnya. Kemuliaan dan kehebatan Nabi Sulaiman ini dapat dibaca pada surah An-Naml (semut [27] ayat 20-44).
                Sebagaimana dikisahkan dalam AlQuran, Nabi Sulaiman adalah seorang raja yang memiliki kekuasaan sangat luas. Karenanya, ia terus berusaha memperluas wilayahnya. Suatu ketika saat ia mengumpulkan seluruh makhluk, ia tidak mendapati burung Hud-hud, sebab itu jika Hud-hud kembali ia harus bisa memberikan alasannya yang tidak memenuhi undangan dari Sulaiman. Tak berapa lama kemudian, datanglah burung Hud-hud dan memberikan sebuah kabar kepada Sulaiman, yaitu sebuah kerajaan yang besar yang dipimpin oleh seorang Ratu, namun tidak beriman kepada Allah. Kerajaan itu terletak di daerah Saba di Yaman Selatan.

Tertarik dengan cerita Hud-hud, Sulaiman kemudian meminta kepada salah satu diantara yang hadir untuk mengecek kebenaran kisah Hud-hud dan mengirimkan surat pada Ratu Saba yang bernama Bilqis. Singkat cerita, setelah menerima surat Sulaiman, ratu Saba pun kemudian mendatangi kerajaan Sulaiman yang terletak di Palestina. Sebelum ratu Saba tiba di kerajaannya, Sulaiman menanyakan kepada pembesarnya, siapa diantara mereka yang sanggup memindahkan istana Ratu Saba ke kerajaan Sulaiman, Jin Ifrit mengatakan bahwa dirinya sanggup melakukan sebelum Sulaiman beranjak dari tempat duduknya (QS An-Naml [27]: 39).
Lalu, salah seorang lainnya yang memiliki keluasaan ilmu pengetahuan menyatakan sanggup memindahkan istana ratu Saba sebelum Sulaiman mengedipkan matanya (QS An-Naml [27]: 40). Maka kemudian atas izin Allah, istana Ratu Bilqis berhasil dipindahkan. Sulaiman pun bersyukur atas karunia tersebut karena berhasil memindahkan istana Ratu Bilqis sebelum kedatangannya di kerajaan di kerajaan Sulaiman. Kemudian Sulaiman memerintahkan anak buahnya yang terdiri dari para jin untuk merubah sedikit bentuk istana ratu Saba tersebut.
Dan ketika ratu Saba tiba dan ditanyakan Sulaiman apakah istananya serupa dengan istana yang terletak di samping istana Sulaiman itu, Ratu Bilqis pun mengakuinya. Namun dengan adanya perubahan dan keindahan bangunan istana yang terbuat dari kaca, membuat ratu Bilqis mengangkat sebagian pakaianyya hingga terlihatlah kedua betisnya.

Yaman Selatan
                Catatan sejarah mengungkapkan, Ratu Saba berasal dari negeri tua Saba di Yaman Selatan. Penelitian yang dilakukan terhadap reruntuhan kerajaan Saba terungkap bahwa ada seorang ratu yang pernah berada di kawasan ini hidup antara 1.000 hingga 950 SM dan melakukan perjalanan ke utara (ke Jerusalem).  Dan menurut sebagian riwayat, Saba adalah julukan yang diberikan kepada raja-raja yang memerintah di Yaman Selatan.
                Berdasarkan keterangan AlQuran maupun kisah-kisah yang terdapat dalam versi Yahudi dan Nasrani, Sulaiman (Solomon) memiliki kerajaan yang sangat istimewa. Kerajaannya dibangun dengan menggunakan ilmu teknologi yang sangat maju di masanya. Di istananya terdapat berbagai karya seni dan benda-benda berharga, yang mengesankan bagi semua yang menyaksikannya.

  Wailing Wall (Tembok Ratapan)         

Istana Nabi Sulaiman disebut dengan nama Solomon Temple (Istana atau Kuil Sulaiman) dalam literatur yahudi. Saat ini, keberadaan istana Sulaiman sudah tidak ada karena mengalami keruntuhan, kecuali hanya Tembok sebelah barat yang tersisa dari bangunan kuil atau istana yang masih berdiri. Oleh orang yahudi sisa bangunan kuil itu dinamakan dengan Wailing Wall atau Tembok Ratapan.
                Dalam beberapa riwayat, hancurnya istana Sulaiman bukan karena runtuh tetapi diruntuhkan oleh orang-orang yahudi yang sombong dan angkuh. Hal ini dijelaskan dalam AlQuran surah Al-Isra [17] ayat 4-7. Dalam hikayat lain disebutkan, istana Sulaiman menempati area yang luas dan megah, konon pintu istananya terbuat dari kayu zaitun dan cemara, lantainya terbuat dari kaca dan emas, warna bangunannya berwarna-warni seperti biru, ungu, hijau, kuning dan lainnya. Dalam versi Yahudi disebutkan warna biru mewakili langit sedangkankan warna merah mewakili bumi, ungu kombinasi dua warna merupakan pertemuan dari langit dan bumi.
                Selain istana Sulaiman, konon di lingkungan istana Haikal Sulaiman tedapat bangunan lainnya seperti gapura yang terletak di sebelah arah barat daya, istana ratu Bilqis, istana Sulaiman pintu gerbangnya memiliki 32 pilar. Selain itu ada pula ruang pengadilan, tempat tinggal para rahib, pintu masuk ke kuil lapangan atau alun-alun, dan lain sebagainya.

Dome of the Rock

   Masjid Kubah Batu (Dome of Rock) di Palestina

                Ada versi menarik mengenai keberadaan istana Sulaiman, konon, kekerasan sikap Yahudi untuk merebut Palestina dan menghancurkan Al-Aqsha, salah satunya adalah keberadaan istana Sulaiman tersebut. Menurut versi Yahudi, kuil Sulaiman merupakan lambang kekuatan, sehingga sangat berguna dalam situasi terkini di dunia internasional. Mereka meyakini kalau pondasi kuil Sulaiman berada di masjid Al-Aqsha. Namun karena sudah roboh maka kuil ini tidak bisa di restorasi lagi. Kenapa Yahudi ngotot ingin menghancurkan Al-Aqsha? Konon, bukan Al-Aqsha yang dijadikan persoalan melainkan simbol dari kuil Sulaiman itu sebelumnya.
                Dan satu-satunnya tempat yang bagus untuk pembangunan kuil itu terletak di Bukit Zaitun, diantara Masjid Al-Aqsha dan Dome of the Rock. Di tempat ini pemandangannya sangat bagus dan pembangunan kuil itu dianggap sangat penting oleh pihak Yahudi terutama pengakuan atas bangsa Yahudi.
                Konon, kuil Sulaiman terletak di sebelah selatan Dome of the Rock, yaitu masjid yang dibangun oleh Khalifah Al-Walid dari Dinasti Umayyah. Tempat ini pernah dipakai shalat oleh Khalifah Umar bin Khattab. Ia kemudian meletakkan sebuah batu (the rock). Lalu oleh Abdul Malik diatas batu itu dibangun kubah yang kemudian dikenal dengan nama Dome of the Rock.
Wa Allahu A’lam.

KAUM ‘AD – UMAT NABI HUD


KAUM ‘AD – UMAT NABI HUD

Irama Dzaati al-Imaad
Reruntuhan yang berhasil digali oleh para peneliti arkeologi di kawasan Ubar. Mereka meyakini, bangunan yang berada di bawah tanah ini adalah sisa-sisa peninggalan kaum ‘Ad.
N
abi Hud AS. adalah salah seorang Rasul yang diutus oleh Allah SWT kepada kaumnya, yakni ‘Ad untuk menyembah dan beriman kepada Allah serta tidak menyekutukannya, namun, umatnya justru menanggapi dengan rasa permusuhan, mereka menganggap Nabi Hud  sebagai manusia biasa yang tidak mempunyai kemampuan atau kelebihan apa pun dibandingkan mereka (Kaum ‘Ad). Umatnya ini menganggap Nabi Hud AS.  sebagai pembohong, bodoh, dan telah mengubah kebiasaan yang telah dilakukan oleh para leluhurnya terdahulu.

“Dan kepada kaum 'Ad (Kami utus) saudara mereka, Huud. Ia berkata: "Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Kamu hanyalah mengada-adakan saja.” (QS. Hud [11]: 50)
Namun, umatnya tak pernah menerima dakwah yang disampaikan oleh Hud. Selama bertahun-tahun Nabi Hud menyampaikan dakwah, kaumnya tetap saja membangkang dan menolaknya. seperti yang terdapat dalam AlQuran QS. Al-Mu’minun [23]: 33-37.
“Dan berkatalah pemuka-pemuka yang kafir di antara kaumnya dan yang mendustakan akan menemui hari akhirat (kelak) dan yang telah Kami mewahkan mereka dalam kehidupan di dunia: "(Orang) ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, dia makan dari apa yang kamu makan, dan meminum dari apa yang kamu minum. Dan sesungguhnya jika kamu sekalian mentaati manusia yang seperti kamu, niscaya bila demikian, kamu benar-benar (menjadi) orang-orang yang merugi. Apakah ia menjanjikan kepada kamu sekalian, bahwa bila kamu telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang belulang, kamu sesungguhnya akan dikeluarkan (dari kuburmu)? jauh, jauh sekali (dari kebenaran) apa yang diancamkan kepada kamu itu, kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi.” (QS. Al-Mu’minun [23]: 33-37)
Karena kaum ‘Ad ini tetap saja enggan menerima dakwah Nabi Hud, maka Allah menimpakan adzab kepada mereka. Dalam AlQuran dijelaskan, kehancuran kaum ‘Ad disebabkan oleh angin topan yang dahsyat dan berlangsung selama tujuh malam delapan hari. Lihat (QSAl-Haaqqah [69]: 6-8)
Bukti Arkeologis
Setelah sekian ribu tahun akhirnya para peneliti mencoba melakukan penelitian terhadap kemungkinan ditemukannya berbagai peninggalan umat Nabi Hud dan sisa-sia dari bangsa ‘Ad tersebut. Dalam berbagai upaya penelitian tersebut akhirnya mulai menemukan tanda-tanda sebagian umat terdahulu ini. Pada tahun 1990, beberapa Koran terkemuka di dunia melapokan temuan salah seorang arkeolog yang bernama Nicholas Clapp.
Hasil temuan itu kemudian dipublikasikan di sejumlah media dengan headline yang melaporkan tentang keberadaan kamu ‘Ad ini. Seperti dikutip www.islamicity.com yang menulis Fabled Lost Arabian City Found (Kota Legenda Arabia yang Hilang  Telah Ditemukan) dan ada juga yang menuliskan Arabian City of Legend Found, The Atlantis Of Sands, Ubar dan lain sebagainya.
            Dalam penelitian Nicholas Clapp merujuk pada buku-buku sejarah Arab yang bersumber pada keterangan AlQuran dan karya peneliti Inggris bernama Bertram Thomas dengan judul ArabiaFelix. Arabia Felix adalah sebuah ungkapan yang diberikan penguasa Romawi bagian selatan semenanjung Arabia pada kala itu, yang berarti Arabia yang Beruntung. Dinamakan demikian karena keberadaan dan letaknya yang sangat strategis telah menjadi perantara dalam perdagangan rempah-rempah antara India dengan tempat di utara semenanjung arab. Dan orang-orang yang tinggal di daerah ini, mampu memproduksi dan mendistribusikan ‘frankincense (seperti gaharu), sejenis getah wangi dari pohon yang sangat langka, digunakan sebagai dupa dalam berbagai ritual keagamaan. Dan tanaman ini pada kala itu harganya sebanding dengan emas.
            Dari ayat AlQuran dan buku karangan Thomas ini, Nicholas Clapp menelusuri jejak sebuah kota kuno di bagian selatan semenanjung arab (termasuk Yaman dan Oman), bernama Ubar yang disebut dalam dongeng Suku Badui.
Dalam AlQuran, kejadian atau peristiwa yang menghancurkan kaum ‘Ad ini terjadi di kota Iram, salahsatu kota di semenanjung arab. Setelah lokasi kota legenda yang menjadi subyek cerita dongeng Suku Badui ini ditemukan, dilakukan penggalian untuk mengangkat peninggalan dari sebuah kota yang terkubur di bawah padang pasir. Irama Dzaati al-Imaad, bermakna Kota Seribu Pilar. Menurut Ptolemeus, kota Iram merupakan ibu kota dari bangsa ‘Ad, kaum penyembah berhala yang hidup pada masa Nabi Hud AS.
          Dari sini kemudian ditemukan sejumlah bekas reruntuhan yang diyakini merupakan pilar-pilar dari bangunan menara yang dulunya dimiliki Kaum ‘Ad dan Iram, sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al-Fajr [89] ayat6-8.
Berdasarkan keterangan dan data-data empirik tersebut, Clapp mencoba dua jalan untuk membuktikan keberadaan Ubar. Ia menemukan bahwa jalan-jalan yang diakatakan oleh suku Badui itu benar-benar ada. Ia meminta kepada NASA – Badan Luar Angkasa Nasional Amerika Serikat, untuk menyediakan foto atau citra satelit dari kawasan tersebut. Setelah melalui perjuangan yang panjang, Clapp berhasil membujuk pihak yang berwenang untuk memotret daerah tersebut.
            Selanjutnya, Clapp mempelajari naskah dan peta-peta kuno di perpustakaan Huntington di California untuk menemukan peta dari daerah tersebut. Ia berhasil menemukan sebuah peta yang digambar oleh Ptolemeus sendiri, seorang ahli geografi Yunani – Mesir dari tahun 200 M. dalam peta ini ditunjukkan letak dari kota tua yang ditemukan di daerah tersebut dan jalan-jalan yang menuju kota tersebut. Bahkan, hasil foto satelit NASA menunjukkan adanya jejak kafilah yang tidak mungkin dikenali dengan mata telanjang.
Setelah membandingkan gambar dari satelit dengan peta tua itu, akhirnya Clapp berkesimpulan bahwa jejak-jejak dalam peta tua itu berhubungan erat dengan foto yang dihasilkan dari pencitraan satelit. Ia berkesimpulan kota tua tempat kaum ‘Ad dalam dongeng suku Badui terdapat di Ubar. Apalagi, setelah dilakukan penggalian, kota itu nampak berada di bawah pasir sedalam 12 meter. Yang lebih mengesankan lagi bagi Clapp, sisa-sisa peninggalan kaum ‘Ad ini berupa pilar-pilar bangunan yang tinggi, sebagaimana diisyaratkan AlQuran.
            Dr. Zarins seorang anggota tim penelitian yang memimpin penggalian, mengatakan bahwa selama menara-menara itu dianggap sebagai unsur yang menunjukan kekhasan kota Ubar, dan Iram disebutkan mempunyai menara-menara atau tiang-tiang, hal itu merupakan bukti terkuat bahwa peninggalan sejarah yang mereka gali adalah Iram, kota kaum ‘Ad yang disebutkan dalam AlQuran.

foto hasil citra satelit NASA
 Foto citra satelit, Ubar hanya bisa dilihat dari luar angkasa sebelum dilakukan penggalian
Peradaban Modern Kaum ‘Ad
            Salah satu jejak ditemukannya keberadaan peninggalan kaum ‘Ad adalah pilar-pilar bangunan yang tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa sejak zaman dahulu, umat manusia, khususnya kaum ‘Ad, sudah memiliki peradaban yang sangat maju. Ini dibuktikan dengan pendirian bangunan yang menggunakan pilar sangat tinggi.
            Banyak perdebatan mengenai ciri-ciri dari kaum ‘Ad membangun kota Iram (Ubar), terutama kemajuan peradaban mereka. Sebab, para ahli kesulitan menunjukkan bukti sejarah tentang peradaban lama dari bangsa ‘Ad ini. Menurut sebuah sumber, tidak adanya catatan mengenai peradaban bangsa ini dikarenakan kaum yang berdiam di Arabia Selatan (yaman) ini selalu menjaga jarak dengan masyarakat lain yang hidup di Mesopotamia dan Timur Tengah.
            AlQuran telah menceritakan kisah kaum ‘Ad ini sejak 14 abad silam. Dalam AlQuran, umat Nabi Hud AS ini dikenal sebagai umat yang sombong. Mereka juga tidak percaya dengan kenabian Hud AS. mereka menyombongkan diri sebagai kaum yang kuat, perawakan tubuhnya tinggi besar (QS 41: 15); tinggal di bangunan tinggi, dengan istana-istana dan benteng-benteng yang dibangun diatas perbukitan (QS 26: 128-129); suka menyiksa dengan kejam (QS 26:130); mempunyai banyak keturunan, serta memiliki banyak hewan ternak, kebun dan mata air (QS 26: 133-134).

Atlantis di Padang Pasir, begitulah julukan yang diberikan kepada Kaum ‘Ad. Sebab, sisa-sisa peninggalan mereka tenggelam ke dalam tanah.
            Kaum ‘Ad diperkirakan hidup antara abad ke 20 sebelum masehi (SM). AlQuran menyebutkan, kaum ini sebelum kaum Nabi Luth dan Kaum Tsamud (Nabi Saleh). Kaum Luth hidup sezaman dengan nabi Ibrahim sekitar abad 17-18 SM. Sedangkan kaum Tsamud sekitar abad ke-8 SM. Kaum ‘Ad diperkirakan hidup pada tahun 2000 SM. Namun ada pula yang menyatakan abad ke-23 SM, dan 13 SM, sebelum masa Nabi Musa AS.
Selain Ubar, ada pula peninggalan kaum ‘Ad yang ada di Shabwah, dengan ciri-ciri berupa tiang-tiang yang sangat rumit, unik dan menarik, serta dibuat model bundar (bulat) dan disusun dalam serambi-serambi melengkung. Orang-orang di Shabwah, tampaknya mewarisi gaya arsitektur dari para leluhurnya kaum ‘Ad. Sedangkan semua situs (tempat) yang ada di Yaman sejauh ini baru ditemukan memliki tiang-tiang monolit berbentuk persegi.
            Fotius, dari Konstantinopel pada awal abad ke-9 masehi, melakukan penelitian tentang orang-orang Arabia Selatan dan aktifitas perdagangan yang mereka lakukan. Penelitian ini didasarkan pada manuskrip Yunani kuno dan karya Agatharichides (132 M), tentang Laut Eritrea (Laut Merah). Fotius mengatakan; “Diwartakan bahwa, mereka (bangsa arab selatan) telah membangun banyak tiang berlapis emas atau terbuat dari perak. Ruangan-ruangan di antara tiang-tiang tersebut sangat mengagumkan untuk dilihat.”
Ia menambahkan, menara-menara itu disebut sebagai bentuk khas kota Ubar karena Iram dikatakan mempunyai menara-menara atau tiang-tiang sebagaimana keterangan AlQuran, Irama Dzaati al-Imaad.
Orang Hadramaut Keturunan Kaum ‘Ad?
            Ada pendapat yang menyatakan, bahwa orang Hadramaut (Yaman) saat ini merupakan anak cucu dan keturunan dari kaum ‘Ad. Dugaan ini didasarkan pada penelitian yang dilakukan secara mendalam mengenai peradaban yang didirikan kaum ‘Ad, di Ubar, Yaman Selatan.
   Harun Yahya dalam situsnya www.harunyahya.com dan www.bangsamusnah.com menyebutkan, di Yaman Selatan ini terdapat empat kaum yang hidup sebelum saat ini. Keempat kaum itu adalah Hadramaut, Sabaean (Saba), Minaean, dan Qatabaean.
Keempat kaum ini pada waktu yang singkat berada dalam satu pemerintahan di suatu daerah yang berdekatan. Banyak ilmuwan kontemporer mengatakan bahwa kaum ‘Ad telah memasuki satu periode transformasi dan kemudian muncul kembali ke dalam panggung sejarah. Dr. Mikhail H. Rahman, seorang peneliti dari university of Ohio, merasa yakin bahwa kaum ‘Ad adalah nenek moyang dari Hadramaut, Saba, dan sejumlah kaum yang pernah hidup di Yaman Selatan.
          Seorang penulis Yunani bernama Pliny, menghubungkan suku ini sebagai “Adramitai” yang berarti Hadrami. Akhiran dalam bahasa Yunani adalah suffix - kata benda. Kata benda “Adram” mungkin merupakan perubahan dari kata “Ad-I-Ram” sebagaimana disebutkan dalam AlQuran.
          Ptolemeus (150-100 SM) menunjukkan, bahwa di sebelah selatan Semenanjung Arab adalah tempat dimana kaum “Adramitai” ini pernah hidup. Daerah yang sampai sekarang ini dikenal dengan nama Hadramaut, ibu kota Negara Hadrami adalah Shabwah, terletak di sebelah barat lembah Hadramaut. Berdasarkan berbagai legenda tua yang menyatakan bahwa makam Nabi Hud yang diutus sebagai nabi kaum ‘Ad terletak di Hadramaut.
          Faktor lain yang cenderung membenarkan pemikiran bahwa Hadramaut adalah penerus dari kaum ‘Ad adalah kekayaan mereka. Bangsa Yunani menegaskan bahwa Hadramites (orang Hadramaut) sebagai “Suku Bangsa yang Terkaya di dunia”.
Catatan sejarah mengatakan bahwa Hadramites sangat maju dalam pertanian wewangian, salah satu tanaman yang paling berharga kala itu, mereka membangun daerah-daerah baru yang digunakan untuk menanam dan memperluas perkebunannya. Kini hasil pertanian Hadramites lebih banyak daripada produksi wewangian tersebut.
          Apa yang ditemukan dalam penggalian yang dilakukan di Shabwah yang dulunya dikenal sebagai ibu kota Hadramites sangat menarik, pada penggalian yang dimulai pada tahun 1975, sangat sulit bagi para ahli arkeologi untuk mencapai sisa-sisa atau reruntuhan dari kota tersebut, sebab lokasinya terkubur di bawah gurun pasir yang dalam, tetapi hasil akhir penggalian ternyata menakjubkan. Kota tua yang digali merupakan salah satu temuan terbesar dan menarik saat ini. Kota yang dikelilingi oleh tembok, dinyatakan lebih luas dari berbagai situs kuno lainnya di Yaman, dan istananya dikenal sebagai bangunan yang menakjubkan.
Wa Allahu ‘Alam.

Lokasi Bahtera Nuh Setelah Banjir Besar

Lokasi Bahtera Nuh Setelah Banjir Besar

GUNUNG ARARAT TURKI
Penemuan Bangkai Kapal Nabi Nuh

Para ahli arkeologi menemukan sebuah tempat yang diperkirakan sebagai bangkai kapal Nabi Nuh.


Di Gunung Ararat, Turki ini, para peneliti meyakini sebagai tempat berlabuhnya kapal Nabi Nuh AS saat banjir besar surut. Tampak model perahu yang dijadikan pusat penelitian.

B
agi umat islam yang pernah membaca sejarah 25 Nabi dan Rasul, pastinya mengetahui tentang kisah Nabi Nuh Alaihissalam. Ia diutus oleh Allah SWT untuk mengajak kaumnya menyembah Allah. Dan selama lebih kurang 950 tahun, Nabi Nuh berdakwah kepada tiga generasi dari kaumnya. Dalam waktu yang panjang itu, Nabi Nuh AS hanya mendapatkan pengikut kurang dari 100 orang dan delapan anggota keluarganya (ada yang menyebutkan 70 orang dan 8 anggota keluarganya).
Padahal, Nabi Nuh AS telah berdakwah siang dan malam, namun kaumnya tak mau juga menerima kehadirannya sebagai rasul Allah. Hingga akhirnya Ia memohon kepada Allah agar kaumnya yang suka membangkang itu di beri peringatan. Doanya pun dikabulkan oleh Allah SWT. Ia diperintahkan untuk membuat sebuah perahu besar (bahtera) sebagai persiapan bila siksa Allah berupa banjir besar datang.

Nuh diperintahkan untuk mengikutsertakan berbagai spesies binatang secara berpasang-pasangan, baik liar maupun jinak ke dalam perahunya. Setelah semuanya siap, pengikut Nabi Nuh dan hewan-hewan tersebut telah naik ke dalam bahtera itu, turunlah hujan yang sangat lebat hingga mengakibatkan banjir besar. Selain mereka yang berada di atas kapal, tak ada yang selamat dari banjir tersebut. Setelah beberapa lama berlayar di atas lautan banjir, air pun surut.
         Dan ketika banjir telah reda dan air telah surut, kapal Nabi Nuh kemudian terdampar (berlabuh) di sebuah bukit yang tinggi (al-judy). Peristiwa ini secara lengkap terdapat dalam AlQuran surah Nuh [71]: 1-28; Hud[11]: 25-33, 40-48, dan 89.
“Dan difirmankan: “Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah, “dan air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan dan bahtera itu berlabuh di atas bukit (judy) dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zhalim.” (QS. Hud [11]: 44)
Cerita serupa juga terdapat dalam berbagai surah lainnya dalam AlQuran, seperti Al-Ankabut [29]:14-15, Al-Mu’minun [23]: 23-41, Asy-Syuara [26]: 105-122, Al-A’raf [7]: 59-69, dan Yunus [10]: 71-74.
           Peristiwa banjir besar yang melanda umat Nabi Nuh ini, tidak hanya terdapat dalam AlQuran, tetapi juga ada dalam agama dan kebudayaan negeri lainnya. Dalam Injil (bible), kisah serupa juga terdapat dalam Genesis 6: 15, 7: 4-7, 8: 3-4, dan 8: 29. Begitu juga dalam Mitologi Sumeria, Akkadia, Babilonia, serta kebudayaan India, Wales, Lithuania, dan Cina. (lihat penjelasannya pada bagian artikel ini)
           Para peneliti arkeologi dari berbagai negara berlomba-lomba mengungkap kebenaran cerita itu dengan meneliti tempat berlabuhnya kapal Nuh tersebut. Bahkan seorang warga dari Belanda, Johan Huibers, membuat replika kapal Nabi Nuh beberapa tahun silam, proyeknya itu ia klaim sebagai pembuktian kesetiaan imannya kepada Tuhan dan ajaraNya.
Bukan hanya Huibers yang terinspirasi dari kisah Nabi Nuh. Tapi, cerita tentang bahtera Nabi Nuh telah beratus-ratus tahun menjadi inspirasi maupun perbincangan di kalangan awam, arkeolog, dan sejarawan dunia. Hingga mereka berusaha untuk menemukan bangkai atau sisa-sisa dari perahu Nuh itu. Sejumlah peneliti mengaku telah menemukan bukti-bukti tentang keberadaan kapal Nuh itu. Melalui penelitian selama beratu-ratus tahun dan mengamati hasil foto satelit, salah satu situs yang dipercaya sebagai jejak peninggalan kapal tersebut terletak di pegunungan Ararat, Turki yang berdekatan dengan perbatasan Iran.
      Pemerintah Turki mengklaim, bahwa setelah lebih dari 5000 tahun terpendam, bangkai kapal Nuh tersebut ditemukan pada 11 Agustus 1979 di wilayahnya. Bahkan, situs ini telah dibuka untuk umum dan menjadi objek wisata. Pemerintah Iran juga melakukan penyelidikan di Gunung Sabalan, 300 Km dari situs pertama.
          Seperti yang terlihat dari foto-foto lansiran situs www.noaharks-naxuan.com, di lokasi gunung Ararat, tampak sebuah bentuk simetris raksasa seperti cekungan perahu. Diduga tanah, debu, dan batuan vulkanis yang memiliki usia berbeda-beda, telah masuk ke dalam perahu tersebut selama ribuan tahun sehingga memadat dan membentuk seperti perahu. Disekitarnya ditemukan pula jangkar batu, reruntuhan bekas pemukiman, dan ukiran dari batu.
        Memanfaatkan peta satelit dari Google Earth, lokasi situs perahu Nabi Nuh itu terletak pada ketinggian sekitar 2.515 meter dari permukaan laut (dpl). Lokasinya berada di kaki bukit yang agak rata. Sedangkan di daerah sekitarnya terdapat lembah raksasa yang memiliki ketinggian jauh lebih rendah.
Berdasarkan hal ini, perahu Nabi Nuh diperkirakan mendarat pada saat banjir masih belum benar-benar surut. Hal ini juga menunjukkan bahwa kondisi topografi di sekitar situs perahu Nabi Nuh sangat mendukung untuk terjadinya banjir besar.
       Keberadaan kapal Nuh di pegunungan Ararat itu diyakini para peneliti arkeologi sebagai penemuan paling heboh, selain Mumi Firaun. Sebab, penelitian itu telah dilakukan ratusan kali dengan melibatkan para pakar dan ahli geologi, arkeolog dan pesawat luar angkasa untuk mengawasi serta meneliti pegunungan Ararat. Dan ‘penemuan’ ini sangat berharga karena peristiwa itu terjadi lebih dari 5000 tahun yang lalu.
        Di sekitar obyek tersebut, juga ditemukan sebuah batu besar dengan lubang pahatan. Para peneliti percaya bahwa batu tersebut adalah drogue-stones. Pada zaman dulu, batu tersebut biasa dipakai pada bagian belakang perahu besar (kemudi) untuk menstabilkan perahu sewaktu berlayar. Para peneliti juga menemukan sesuatu yang tidak lazim pada batu tersebut, yaitu adanya molekul baja yang diperkirakan berusia ribuan tahun lalu dan dibuat oleh tangan manusia. Karena itu, mereka meyakini, tempat tersebut adalah jejak pendaratan perahu Nuh.
           Dari beberapa foto-foto yang dihasilkan, lokasi gunung Ararat ini memang menunjukan adanya sebuah perahu yang sangat besar. Ukuran perahu itu diperkirakan memiliki luas 7.546 kaki dengan panjang sekitar 500 kaki, lebar 83 kaki dan tinggi 50 kaki. Dalam situs www.worldwideflood.com juga dibahas secara lebih mendetil, mulai dari ukuran perahu, hewan yang naik ke kapal, bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat perahu, dan lain sebagainya.
Baidawi, salah seorang peneliti muslim menjelaskan, ukuran kapal itu sekitar 300 hasta (50 meter dan luas 30 meter) dan terdiri dari tiga tingkat. Di tingkat pertama diletakkan binatang-binatang liar dan yang sudah dijinakkan. Lalu, pada tingkat kedua ditempatkan manusia, dan yang ketiga burung-burung.
Ada juga yang berpendapat, kapal Nuh itu berukuran lebih luas dari sebuah lapangan sepak bola. Luas pada bagian dalamnya cukup untuk menampung ratusan ribu manusia (tinggi manusia jaman modern). Dan jarak dari satu tingkat ke tingkat lainnya mencapai 12 hingga 13 kaki. Dan hewan-hewan dari berbagai spesies itu jumlahnya diperkirakan mencapai puluhan ribu ekor.
Menurut Dr. Withcomb, dalam perahu itu terdapat sekitar 3.700 binatang mamalia, 8.600 jenis burung, 6.300 jenis reptilia, 2.500 jenis amfibi, dan sisanya umat Nabi Nuh. Adapun berat perahu tersebut diprediksi mencapai 24.300 ton.
Bahtera Nabi Nuh diperkirakan dibuat sekitar tahun 3465 SM. Dan beberapa berpendapat, perahu tersebut dibangun disebuah tempat bernama Shuruppak, yaitu sebuah kawasan yang terletak di selatan Irak. Jika perahu itu dibangun di selatan Irak (tempat Nabi Nuh diutus) dan akhirnya terdampar di utara Turki, kemungkinan besar bahtera tersebut telah terbawa arus air sejauh 560 km.
            Kebenaran penemuan itu, masih diperdebatkan banyak pihak. Namun, sejumlah peneliti percaya bahwa pegunungan Ararat adalah tempat berlabuhnya kapal Nuh. AlQuran tidak menyebutkan nama sebuah gunung kecuali nama al-judy, yang bermakna sebuah tempat yang tinggi.
Pegunungan Ararat dikenal sebagai gunung yang unik di Turki. Keunikannya, hampir setiap hari akan terlihat pelangi dari sebelah utara puncak gunung.

pegunungan Ararat ini dikenal pula sebagai salah satu gunung yang memiliki puncak terluas di dunia dan tertinggi di Turki. Puncak tertingginya mencapai 16,984 kaki dari permukaan laut, sedangkan puncak kecilnya setinggi 12.806 kaki. Jika seseorang berhasil menaklukkan pucak besarnya, mereka akan menyaksikan empat wilayah Negara, yaitu Rusia, Iran, Irak, dan Turki.

Kontroversi Seputar Banjir Besar
    Para ahli dan peneliti sepakat bahwa banjir besar yang terjadi di zaman Nabi Nuh benar-benar ada. Bahkan dalam berbagai agama dan kepercayaan, menceritakan kisah banjir besar yang melanda umat Nabi Nuh.
      Perbedaaan pendapat muncul seputar peristiwa itu. Setidaknya ada dua hal yang kini menjadi kontroversi. Pertama, benarkah banjir besar itu menenggelamkan seluruh dunia? Dan, Kedua, apakah seluruh jenis hewan (masing-masing sepasang) yang ada di muka bumi ini naik ke bahtera Nabi Nuh AS, termasuk jinak dan liar?

Banjir Domestik
      Umat Nabi Nuh ditenggelamkan dengan sebuah banjir yang sangat besar karena mereka membangkang atas ajakan Nabi Nuh untuk beriman kepada Allah. Berapa besarnya dan seberapa luasnya banjir itu terjadi masih diperselisihkan .
Setidaknya, ada dua persoalan besar yang menjadi perselisihan kalangan ulama maupun ahli arkeologi mengenai banjir besar ini. Kedua persoalan besar itu adalah apakah banjir besar itu menenggelamkan seluruh dunia (global), atau terbatas pada wilayah tertentu (lokal/domestik), yakni di wilayah tempat Nabi Nuh AS berdakwah kepada kaumnya.
       Tak mudah menjawab pertanyaan itu. Sebab, untuk membedahnya secara lebih lengkap, dibutuhkan data empiris dalam berbagai bidang ilmu, seperti geologi, arkeologi, sejarah, astronomi, geografi, termasuk keterangan yang terdapat dalam kitab-kitab agama. Yang sudah sangat jelas adalah kapal atau bahtera Nabi Nuh itu dipercaya telah ditemukan, tepatnya di atas Gunung Ararat diperbatasan antara Turki dan Iran pada ketinggian sekitar 2.515 dpl. Pada 11 Agustus 1979.
      Ada yang berpendapat, banjir besar itu melanda seluruh dunia sehingga tidak ada satu binatang atau seorang manusia pun yang selamat, kecuali yang berada di atas kapal tersebut.
Di dalam AlQuran maupun bible menyebutkan kaum Nuh dibinasakan dengan sebuah banjir besar. Sebagian ulama ataupun pemerhati sains dan teknologi menyatakan banjir besar itu adalah banjir global yang menenggelamkan seluruh dunia. Penganut Kristen dan Katholik, mempercayai peristiwa itu terjadi secara global. Hal ini dimuat dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang menyatakan terjadinya banjir bersifat global. Pendapat ini diperkuat dengan keterangan dari Genesis 7:4 yang menyatakan “Untuk selama tujuh hari, Aku akan menyebabkan hujan di bumi, 40 hari dan 40 malam dan setiap makhluk hidup yang telah Aku ciptakan, akan Aku binasakan di permukaan bumi”.
            Dalam AlQuran disebutkan:
Nuh berkata: "Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.
Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir. (QS. Nuh [71]: 26-27)
Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir".
Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata: "Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang". Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (QS. Hud [11]: 43)

            Bagi kelompok yang menyatakan banjir global, kalimat “dibinasakannya seluruh orang kafir dari muka bumi” dan besarnya banjir yang “gelombangnya laksana gunung” itu, menandakan banjir itu adalah banjir global yang menenggelamkan seluruh dunia. Mereka mendasarkan pendapatnya pada ayat 42-43 surah Hud [11] dan doa Nabi Nuh AS di atas.
            Kelompok yang mendukung pendapat ini menunjukan data dan bukti berupa penemua fosil-fosil gajah purba (mammoth). Menurut mereka, fosil mammoth itu ikut musnah ketika banjir terjadi. Fosil itu diantaranya ditemukan di Siberia pada 2 juli 2007 lalu, juga pada 24 juni 1977. Dan fosil mammoth yang lebih besar (dewasa) membeku di kutub utara. Menurut hasil penelitian, fosil-fosil gajah purba itu diperkirakan berusia sekitar 10 ribu tahun.
Pendapat ini juga didukung salah seorang penulis Indonesia yang bernama H. Sumar, pemerhati Alquran dan sains. Menurutnya peristiwa itu terjadi sekitar 10 ribu tahun yang lalu dengan bukti berupa musnahnya mammoth di Siberia itu. Ahmad Bahjat, penulis buku Sejarah Nabi-nabi Allah, menyatakan, banjir itu adalah banjir global.
            Namun, pendapat ini dibantah pihak lain. Harun Yahya, penulis buku Kisah-Kisah dalam Alquran dan Jejak-Jejak Bangsa Terdahulu, maupun dalam situs www.bangsamusnah.com, menyatakan banjir tersebut hanya terjadi di wilayah tertentu, yakni ditempat umat Nabi Nuh berada (domestik), dan tidak terjadi secara global yang menenggelamkan dunia. Ia mendasarkan pendapatnya ini dengan peristiwa yang menimpa kaum ‘Ad dan Tsamud.
Menurut kelompok yang menyatakan banjir di zaman Nabi Nuh AS sebagai banjir domestik (lokal), berdasarkan keterangan ayat AlQuran juga. Diantaranya QS. Ar-Ra’du[13]:17; An-Nahl[16]:36, 84, 89; Al-Mu’minun[23]:44; An-Nisa[4]:41; dan Yunus[10]:47. Ayat-ayat tersebut menjelaskan tentang adanya rasul yang diutus oleh Allah pada setiap umat.
Menurut kelompok ini pada zaman Nabi Nuh AS, ada nabi dan rasul lain yang hidup sezaman dengannya. Namun wilayahnya berjauhan dan tidak hanya berada di negara-negara Timur Tengah saja.
Contoh nabi dan rasul yang hidup sezaman adalah Nabi Ibrahim dengan Nabi Luth, Ismail dan Ishak. Lalu, Nabi Ya’kub sezaman dengan Nabi Yusuf. Nabi Musa hidup sezaman dengan Harun dan Nabi Syuaib, Nabi Zakaria sezaman dengan Yahya, serta lainnya. Karena itu, menurut kelompok ini, banjir besar itu hanya menimpa umatnya Nabi Nuh saja.
Lalu siapakah nabi yang kira-kira hidup sezaman dengan Nabi Nuh? Inilah yang perlu dilacak kembali. Sebab berdasarkan hadis Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari, jumlah nabi sebanyak 124 ribu orang dan rasul berjumlah 313 orang. Syekh Ahmad Marzuqy al-Jawi Al-Bantani dalam kitab Syarah Nur al-Zhalam, juga menyebutkan jumlah Nabi dan Rasul seperti yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Nabi pertama adalah Adam AS, sedangkan penutup nabi dan rasul adalah Muhammad SAW. AlQuran menyebutkan, jumlah nabi dan rasul itu sangat banyak dan hanya sebagian saja yang disebutkan dalam Alquran.

“Dan, Sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu” (QS. Al-Mu’min [40]: 78).

          Bila jumlah nabi dan rasul itu dibagi dengan masa hidup para nabi dan rasul sejak Nabi Adam hingga Rasulullah SAW (5872 SM. – 571 M.), setidaknya setiap tahun, terdapat sekitar 19-20 orang nabi dan rasul yang diutus Allah untuk mengajak umat manusia agar beriman dan menyembah Allah.   
            Sejumlah ahli tafsir dan beberapa penulis buku kisah para nabi dan rasul, seperti Ibnu Katsir (Qishash al-Anbiya’) dan Afif Abdul Fatah menyatakan, banjir itu adalah banjir lokal dan hanya umat Nabi Nuh yang dibinasakan. Argumentasinya diperkuat dengan penjelasan bahwa berdasarkan hasil penelitian para ahli geologi terhadap banjir besar itu, perisitiwa itu terjadi di wilayah Mesopotamia yang meliputi wilayah Turki, Iran, Irak, dan Rusia.
Karena daerah itu berupa cekungan raksasa yang luasnya mencapai 9 hingga 10 juta hektar, atau sekitar 70 persen dari luas Pulau Jawa. Sehingga banjir tersebut besarnya bisa disamakan seperti lautan karena puncak bukit setinggi 5.000 meter, tidak akan akan tampak pada jarak 250 kilometer.
Dari hasil citra satelit, lingkup banjir pada saat perahu Nabi Nuh mendarat dapat dilacak dengan membuat garis ketinggian , dan menelusuri level yang sama dengan level lokasi perahu ditemukan. Dari sana diketahui luas area banjir sekitar empat juta hektar, sedangkan panjang lingkup banjir sekitar 560 km.
           Kelompok kedua ini juga berpendapat, suatu kaum tidak akan dibinasakan sebelum Allah mengutus seorang rasul diantara mereka, untuk menerangkan ayat-ayat Allah dan memberikan peringatan.

Dan, tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman. (QS. Al-Qashash [28]: 59)

            Harun Yahya juga menegaskan, banjir besar menimpa umat Nabi Nuh merupakan banjir domestik dan bukan banjir global yang menenggelamkan seluruh dunia. Dalam AlQuran disebutkan, Nabi Nuh memohon kepada Allah agar orang-orang yang tak beriman dan mendustakan dirinya sebagai rasul Allah itu dibinasakan saja

“Disebabkan kesalahan-kesalahan mereka, mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, maka mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah.
Nuh berkata: "Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi.
Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.” (QS. Nuh [71]: 25-27)
           
      Ibnu Katsir dalam bukunya Qishash al-Anbiya’ menyatakan, doa Nabi Nuh AS itu hanya ditujukan untuk umatnya saja, dan bukan keseluruhan umat manusia. Selain itu, umat yang mendiami bumi ini juga terbatas, dan belum merata seperti sekarang ini.

Enam Ribu Tahun Lalu
Kelompok yang menyatakan banjir Nuh ini sebagai banjir domestik (lokal) juga berpendapat bahwa banjir itu terjadi hanya sekitar 6000 tahun yang lalu, bukan 10 ribu tahun lalu. Nabi Nuh hidup antara tahun 3993-3043 SM (950 tahun), atau sekitar 6000 tahun lalu.
Dalam berbagai literatur disebutkan, Nabi Adam AS diperkirakan hidup sekitar tahun 5872 SM atau sekitar 7.800 tahun lalu, dan Nabi Nuh AS hidup pada 4000 SM atau 6000 tahun lalu. Menurut sebagian riwayat, termasuk dalam bible, pada saat banjir besar terjadi, Nabi Nuh berusia sekitar 600 tahun dari total usianya yang mencapai 950 tahun.
Berdasarkan data itu, peristiwa banjir besar ini diperkirakan terjadi 5.400 tahun yang lalu atau sekitar tahun 3.400 SM. Dalam buku Atlas Sejarah Nabi dan Rasul karya Sami bin Abdullah al-Maghluts, secara lengkap diterangkan masa kehidupan dari Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW. (terdapat dalam table di artikel ini).
Tentu menarik dicermati, pendapat yang mengatakan bahwa peristiwa itu terjadi sekitar 10 ribu tahun yang lalu, dengan bukti musnahnya mammoth (gajah purba) yang diperkirakan telah ada sekitar 10 ribu tahun lalu sebelum banjir besar terjadi. Tentunya, bila benar seperti itu, berarti peristiwa itu terjadi sebelum zamannya Nabi Adam AS. Sebab, Nabi Nuh dan Nabi Adam hidup sekitar 6000 tahun dan 8000 tahun yang lalu.
Penelitian arkeologi di sekitar Timur Tengah menunjukan bukti sedimen dan endapan Lumpur tua, yang membuktikan memang pernah terjadi air bah luar biasa, yaitu meluapnya dua sungai besar, Eufrat dan Tigris, persisnya pada 4000 tahun SM, atau sezaman dengan masa hidup Nuh. Wa Allahu A’lam

Sebagian Binatang
           Sama halnya dengan banjir besar terjadi secara regional atau global, para ahli juga berbeda pendapat dengan binatang atau hewan yang naik ke kapal Nabi Nuh AS.
Pendapat pertama, menyatakan seluruh hewan atau binatang yang ada dimuka bumi naik ke atas kapal secara berpasang-pasangan, baik jinak maupun liar.
Pendapat kedua, menyatakan hanya sebagian hewan saja yang naik ke kapala Nabi Nuh AS, baik jinak maupun liar. Penjelasan mengenai agar hewan dinaikkan hanya sepasang, mengindikasikan tidak semuanya dinaikkan ke kapal.
           Sementara itu, H. Sumar berpendapat, hewan yang dinaikkan ke kapal Nabi Nuh AS. hanya sebatas pada binatang ternak dan jinak saja, dan tidak ada hewan liar atau binatang buas seperti ular, singa, harimau, buaya, dan lainnya.
         Namun, banyak ahli yang menyatakan, hewan yang naik ke bahtera Nabi Nuh adalah semua jenis hewan, masing-masing sepasang (jantan dan betina), buas maupun jinak. para ahli berpendapat tidak semua hewan dinaikkan ke bahtera itu, sebab ada hewan yang keberadaannya tidak ditemukan di tempat lain. Misalnya, pada hanya ada di Cina, Kangguru di Australia, Bison di Amerika, dan Komodo di Indonesia.
           Sejumlah pakar menyebutkan, jika seluruh hewan dan binatang naik ke perahu, bagaimana mungkin Bison yang ada di Amerika, Komodo di Indonesia, Kangguru di Australia, Panda di Cina bisa berkumpul dalam waktu singkat ke dalam perahu Nabi Nuh. Selain itu, bagaimana mengumpulkan berbagai jenis serangga, semut, nyamuk, laba-laba dan lainnya secara berpasangan.
Sementara itu, umat Nabi Nuh AS. belum diberi kemampuan untuk membedakan jenis kelamin serangga antara jantan dan betina yang jumlahnya mencapai ribuan jenis itu. Wa Allahu A’lam

TABEL I
PERKIRAAN MASA HIDUP NABI DAN RASUL
   Nabi                          Tahun
Adam                 5872 – 4942 SM
Idris                    4533 – 4188 SM
Nuh                    3933 – 3043 SM
Hud                    2450 – 2320 SM
Saleh                  2150 – 2080 SM
Ibrahim               1997 – 1822 SM
Luth                   1950 – 1870 SM
Ismail                 1911 – 1774 SM
Ishak                 1897 -  1717 SM
Ya’kub               1837 – 1690 SM
Yusuf                 1745 – 1635 SM
Syuaib               1600 – 1490 SM
Ayub                 1540 – 1420 SM
Zulkifli               1500 – 1425 SM
Musa                 1527 – 1407 SM
Harun                1531 – 1408 SM
Daud                 1041 –   971 SM
Sulaiman             989 –   931 SM
Ilyas                   910 –   850 SM
Ilyasa                  885 –   795 SM
Yunus                  820 –  750 SM
Zakaria                 91 –         1 M
Yahya               31 SM –      1 M
Isa                      1 SM –    32 M
Muhammad         571 –    632 M
Sumber: Buku Atlas Sejarah Nabi dan Rasul – Sami bin Abdullah Al-Maghluts

 # Banjir Besar Dalam Kebudayaan Dunia
         Dalam AlQuran dijelaskan, Allah menciptakan umat manusia (Adam) untuk menjadi khalifah (pengelola) bumi dan seisinya. Allah menciptakan manusia agar berbakti dan beribadah hanya kepada-Nya. Dan mereka yang ingkar, mendustakan ayat-ayat Allah dan berbuat kerusakan di muka bumi maka siap-siap untuk menerima adzab Allah atas perbuatan mereka.
        Peristiwa banjir besar dan ditenggelamkannya umat Nabi Nuh AS merupakan bukti nyata kemurkaan Allah SWT atas kaum yang mendustakan ayat-ayat dan rasul-Nya. Kendati sudah diajak selama ratusan tahun untuk menyembah Allah Yang Esa, namun kaumnya tetap mengingkari dan enggan mengikutinya. Maka sebagai akibatnya, Allah menurunkan bencana dan siksa bagi kaum yang tidak beriman tersebut.
Sementara mereka yang beriman, Allah akan senantiasa memberikan pertolongan dan rahmat-Nya. Itulah balasan bagi orang yang selalu berbuat baik dan beriman kepada Allah.
         Peristiwa banjir besar yang terjadi di zaman Nabi Nuh AS atau yang serupa dengan kisah tersebut, juga terdapat dalam kitab suci agama lain dan sejarah kebudayaan dunia. Hal ini menunjukkan bahwa peristiwa itu benar-benar telah terjadi di bumi. Berikut berbagai versi tentang peristiwa banjir besar tersebut.

Versi Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru
          Tuhan memerintahkan kepada Nuh bahwa semua orang, kecuali para pengikutnya, akan dihancurkan karena bumi telah oenuh dengan berbagai macam tindak kekerasan. Tuhan memerintahkan mereka untuk membuat sebuah perahu dan menyebutkan secara detail bagaimana cara mengerjakannya. Tuhan juga mengatakan kepadanya untuk membawa serta keluarganya, tiga anaknya, istri-istri anaknya, dua dari setiap mahkluk hidup (sepasang), dan berbagai persediaan bahan pangan.
          Tujuh hari kemudian, terjadilah banjir besar yang berlangsung selama 40 hari 40 malam. Setelah air surut, perahu itu berlabuh di puncak gunung Ararat (Agri)

Babilonia
           Ut-Napishtim adalah persamaan tokoh bangsa Babilonia terhadap pahlawan dalam peristiwa banjir dalam kisah bangsa Sumeria, yaitu Ziusudra. Tokoh penting yang lain adalah Gilgamesh.
Menurut legenda, Gilgamesh memutuskan untuk mencari dan menemukan para leluhurnya agar mengungkapkan rahasia kehidupan yang abadi. Ia melakukan sebuah perjalanan yang menantang bahaya. Ia diperintahkan supaya melakukan perjalanan melewati “Gunung Mashu dan Air Kematian”, dan sebuah perjalanan yang hanya dapat diselesaikan oleh seorang anak tuhan bernama Shamash.
Gilgamesh bertanya kepada Ut-Napishtim bagaimana ia dapat memperoleh keabadian. Lalu, Ut-Napishtim menceritakan kepadanya kisah tentang banjir sebagai jawaban atas pertanyaannya. Banjir juga diceritakan dalam kisah Duabelas Meja (twelve tables) yang terkenal dalam epik tentang Gilgamesh

India
       Dalam epik India yang berjudul Shatapa Brahmana dan Mahabharata, seseorang yang disebut dengan Manu diselamatkan dari banjir bersama dengan Rishiz.
      Menurut legenda, seekor ikan yang ditangkap dan diselamatkan oleh Manu, tiba-tiba berubah menjad besar dan mengatakan kepadanya untuk membuat sebuah perahu dan mengikatkan perahu tersebut ke tanduknya. Ikan ini dilambangkan sebagai penjelmaan dari Dewa Wisnu. Lalu, ikan tersebut menuntun kapal mengarungi ombak yang besar dan membawanya ke utara ke Gunung Hismavat.

Wales
      Menurut legenda Welsh dikatakan, Dwynwen dan Dwfach sekamat dari bencana yang besar dengan sebuah perahu. Ketika banjir yang amat mengerikan terjadi setelah meluapnya Llynllion, yang disebut dengan Danau Gelombang. Setelah selamat, keduanya kemudian kembali dan menghuni daratan Inggris.

Cina
       Sumber di bangsa Cina menghubungkan cerita ini dengan seseorang yang dipanggil dengan nama Yao bersama dengan tujuh orang lain, atau Fa Li bersama dengan istri dan anak-anaknya. Mereka diselamatkan dari bencana banjir dan gempa bumi dalam sebuah perahu layar. Disni dikatakan, “Dunia semuanya berada dalam kehancuran. Air menyembur dan menutupi semua tempat”. Akhirnya, air surut.

Lithuania
        Diceritakan bahwa beberapa pasang manusia dan binatang, diselmatkan dengan berlindung di puncak permukaan gunung yang tinggi. Ketika angin dan banjir yang berlangsung selama 12 hari 12 malam tersebut mulai mencapai ketinggian gunung, dan hampir akan menenggelamkan yang ada di atas puncak gunung tersebut, Sang Pencipta melemparkan sebuah kulit kacang raksasa kepada mereka. Sehingga, mereka yang berada di atas gunung tersebut diselamtkan dari bencana dengan berlayar didalam kulit kacang raksasa ini.

Yunani
        Dewa Zeus memutuskan untuk menghancurkan orang-orang yang semakian berbuat kesesatan setiap saat memlalui sebuah banjir. Hanya Deucalion dan istrinya, Pyrrha, yang diselamatkan dari banjir karena ayah Deucalion sebe;umnya telah menyarankan anaknya untuk membuat sebuah bahtera. Pasangan ini turun ke Gunung Parnassis pada hari kesembilan setelah turun dari bahtera.

Skandinavia
         Legenda Nordic Edda menyebutkan tentang Bergalmir dan istrinya, yang selamat dari banjir dengan sebuah kapal besar.