Sabtu, 07 Desember 2013

Amalan Sholih di Awal Dzulhijah dan Puasa Arofah

Amalan Sholih di Awal Dzulhijah dan Puasa Arofah
Alhamdulillah, Allah subhanahu wa ta’ala masih memberikan kita berbagai macam nikmat, kita pun diberi anugerah akan berjumpa dengan bulan Dzulhijah. Berikut kami akan menjelasakan keutamaan beramal di awal bulan Dzulhijah dan apa saja amalan yang dianjurkan ketika itu. Semoga bermanfaat.

Keutamaan Sepuluh Hari di Awal Bulan Dzulhijah
Di antara yang menunjukkan keutamaan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah adalah hadits Ibnu ‘Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
"Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah)." Para sahabat bertanya: "Tidak pula jihad di jalan Allah?" Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: "Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun."(1) Di antaranya lagi yang menunjukkan keutamaan hari-hari tersebut adalah firman Allah Ta’ala,
“Dan demi malam yang sepuluh.” (QS. Al Fajr: 2). Di sini Allah menggunakan kalimat sumpah. Ini menunjukkan keutamaan sesuatu yang disebutkan dalam sumpah.(2) Makna ayat ini, ada empat tafsiran dari para ulama yaitu: sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah, sepuluh hari
terakhir bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama bulan Ramadhan dan sepuluh hari pertama bulan Muharram.(3) Malam (lail) kadang juga digunakan untuk menyebut hari (yaum), sehingga ayat tersebut bisa dimaknakan sepuluh hari Dzulhijah.(4) Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan bahwa tafsiran yang menyebut sepuluh hari Dzulhijah, itulah yang lebih tepat. Pendapat ini dipilih oleh mayoritas pakar tafsir dari para salaf dan selain mereka, juga menjadi pendapat Ibnu ‘Abbas.(5)

Keutamaan Beramal di Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijah
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah)." Para sahabat bertanya: "Tidak pula jihad di jalan Allah?" Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: "Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun."6
Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa amalan di sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari lainnya dan di sini tidak ada pengecualian. Jika dikatakan bahwa amalan di hari-hari tersebut lebih dicintai oleh Allah, itu menunjukkan bahwa beramal di waktu itu adalah sangat utama di sisi-Nya.”7
Bahkan jika seseorang melakukan amalan yang mafdhul (kurang utama) di hari-hari tersebut, maka bisa jadi lebih utama daripada seseorang melakukan amalan yang utama di selain sepuluh hari awal bulan Dzulhijah. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya, “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Beliau pun menjawab, “Tidak pula jihad di jalan Allah.” Lalu beliau memberi pengecualian yaitu jihad dengan mengorbankan jiwa raga. Padahal jihad sudah kita ketahui bahwa ia adalah amalan yang mulia dan utama. Namun amalan yang dilakukan di awal bulan Dzulhijah tidak kalah dibanding jihad, walaupun amalan tersebut adalah amalan mafdhul (yang kurang utama) dibanding jihad.8
Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Hal ini menunjukkan bahwa amalan mafdhul (yang kurang utama) jika dilakukan di waktu afdhol (utama) untuk beramal, maka itu akan menyaingi amalan afdhol (amalan utama) di waktu-waktu lainnya. Amalan yang dilakukan di waktu afdhol untuk beramal akan memiliki pahala berlebih karena pahalanya yang akan dilipatgandakan.”9
Mujahid mengatakan, “Amalan di sepuluh hari pada awal bulan Dzulhijah akan dilipatgandakan.”10
Sebagian ulama mengatakan bahwa amalan pada setiap hari di awal Dzulhijah sama dengan amalan satu tahun. Bahkan ada yang mengatakan sama dengan 1000 hari, sedangkan hari Arofah sama dengan 10.000 hari. Keutamaan ini semua berlandaskan pada riwayat fadho’il yang lemah (dho’if). Namun hal ini tetap menunjukkan keutamaan beramal pada awal Dzulhijah berdasarkan hadits shohih seperti hadits Ibnu ‘Abbas yang disebutkan di atas.11

Amalan yang Dianjurkan di Sepuluh Hari Pertama Awal Dzulhijah
 Keutamaan sepuluh hari awal Dzulhijah berlaku untuk amalan apa saja, tidak terbatas pada amalan tertentu, sehingga amalan tersebut bisa shalat, sedekah, membaca Al Qur’an, dan amalan sholih lainnya.12
Di antara amalan yang dianjurkan di awal Dzulhijah adalah amalan puasa. Dari Hunaidah bin Kholid, dari istrinya, beberapa istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

Kebahagiaan rumah tangga tidak terjadi secara kebetulan

Kebahagiaan rumah tangga tidak terjadi secara kebetulan

Rumah dan Keluarga
Keindahan rumah dalam kebersihan
Kebahagiaan rumah dalam ibadah
Kekayaan rumah dalam keceriaan
Kemuliaan rumah dalam keakraban
Kehangatan rumah dalam cinta

Setiap manusia mendambakan kehidupan yang tenang dan tenteram. Ajaran Islam adalah ajaran yang sesuai dengan fitrah manusia. Islam menyediakan wadah bagi umatnya untuk mencapai ketenangan dan ketenteraman, sembari memberikan resep dan teladan dengan wujud utusan-utusannya yaitu Nabi Muhammad saw dan Ahul Baitnya as. Wadah itu dalam bentuk keluarga (rumah tangga).

Mengingat rumah tangga adalah bagian terkecil dari kehidupan sosial, maka ia adalah penentu keselamatan dan kesehatan kehidupan masyarakat. Rumah tangga yang baik akan menghasilkan masyarakat yang baik. 
Rumah tangga yang porak-poranda akan menghasilkan masyarakat yang porak-poranda juga.
Oleh karenanya, masing-masing anggota keluarga memiliki peran penting dalam mewujudkan kesehatan jiwa sesamanya terutama suami/istri terhadap pasangan hidupnya, ayah dan ibu terhadap anak-anaknya. Tentunya sebelum suami/istri menyediakan sarana kesehatan jiwa buat pasangan hidup dan anak-anaknya, ia sendiri mampu membuktikan bahwa dirinya memiliki jiwa yang sehat.


Seseorang dikatakan memiliki jiwa yang sehat, bila ia mampu berkomunikasi secara baik dengan sesamanya. Seseorang dikatakan berjiwa sehat, bila anggota keluarga, tetangga, masyarakat umum merasa tenang dengan keberadaan dan perilakunya, orang lain tidak tersiksa dengan ucapan dan amal perbuatannya.


Pengaruh kesehatan jiwa tidak hanya terbatas pada kehidupan duniawi saja, tapi juga sangat menentukan kehidupan ukhrawi seseorang. Oleh karena itu dalam hadis Nabi Muhammad saw dikatakan: “Orang yang ditakuti karena mulutnya adalah penghuni neraka”.

Orang lain takut bukan karena wibawa dan kehormatannya, tapi takut karena jangan sampai terkena bisa mulutnya. Tentu saja orang yang berwibawa bukan ditakuti, tapi disegani. Sementara orang yang mulutnya bagaikan bisa ular dijauhi masyarakat sekitarnya karena sengatan kata-katanya yang menyakitkan hati sesamanya; orang semacam ini tidak memiliki kesehatan jiwa.


Korban pertama orang yang tidak memiliki kesehatan jiwa adalah pasangan hidup dan anak-anaknya, kemudian tetangga dan masyarakat lainnya.


Dalam tulisan ini kita akan mengkaji bagaimana seseorang bisa mencapai kebahagiaan rumah tangga. Apakah kebahagiaan bisa didapatkan secara tiba-tiba atau perlu adanya usaha untuk itu? Setiap orang baik pasti mendambakan calon pasangan hidup yang baik yang bisa membawanya menuju kesempurnaan. Namun, kesempurnaan di sini kembali kepada masing-masing pribadi. Adakalanya mencari pasangan hidup yang baik untuk mencapai kesempurnaan materi. Adakalanya untuk mencapai kesempurnaan maknawi.


Bila dalam al-Quran dikatakan bahwa “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)”, bukan berarti bahwa setiap suami atau istri yang baik, pasti istri atau suaminya juga baik dan masuk surga. 
Karena Nabi Nuh dan Nabi Luth as termasuk orang-orang yang baik tetapi istri-istri mereka orang-orang yang jelek dan ahli neraka. Begitu pula Asiyah, wanita baik-baik, namun ia bersuamikan Fir’aun yang kafir dan mengaku sebagai tuhan.


Baik di sini adalah sifat yang “sesuai” yang dipergunakan untuk harta, anak, keturunan, makanan, suami atau istri, pohon, ucapan dan sebaginya. Sebaliknya, jelek juga sebuah sifat yang bisa digunakan untuk hal-hal tersebut. “Sesuai” di sini juga boleh jadi bermakna sepaham dan seide. Yakni secara alami manusia akan mencari orang-orang yang sepaham dan seide dengannya. Dan pada dasarnya orang-orang yang baik akan mencari orang-orang yang baik pula. Sebaliknya orang-orang yang jelek akan mencari orang-orang yang jelek pula.

Dalam Islam, perkawinan yang sukses adalah perkawinan yang didasari dengan modal spiritualitas. sementara modal materi seperti kekayaan dan kecantikan dan lain-lain, ada pada urutan kedua.

Seorang laki-laki atau perempuan yang menjalin ikatan suci perkawinan, pada hakikatnya ia telah menerima seorang partner hidup bagi dirinya. Partner dalam agama dan keyakinannya, partner dalam harta kekayaan dan rahasia-rahasianya dan lain-lain.

Pertanyaannya di sini adalah apakah partner yang demikian ini bisa didapatkan tanpa adanya riset terlebih dahulu? Apakah hanya dengan dasar cinta saja pasangan suami istri akan mencapai kebahagiaan?

Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw meminta saran tentang perkawinannya. Rasulullah saw bersabda: “Kawinlah, namun usahakan mendapat istri yang beragama agar kamu bahagia”.

Ibrahim Karakhi salah seorang sahabat Imam Shadiq as. Ia sering menghadap Imam as dan menanyakan masalah-masalah kehidupannya kepada beliau. Suatu hari ia meminta pendapat Imam as: “Wahai putra Rasulullah! Saya ada rencana untuk kawin”. Imam Shadiq as berkata: “Telitilah! Pikirkan dan kajilah di mana kamu meletakkan dirimu? Siapakah yang kamu jadikan partner dalam hartamu? Siapakah yang kamu beri tahu tentang agama dan rahasiamu? Kalau memang kamu memutuskan untuk kawin, maka kawinlah dengan gadis yang berasal dari keluarga baik-baik dan terkenal berbudi pekerti yang baik. Ketahuilah bahwa sebagaimana penyair mengatakan, “Dalam penciptaannya wanita-wanita itu berbeda, sebagian mereka adalah kekayaan dan modal kebahagiaan, dan sebagian mereka adalah penyebab azab dan kesengsaraan. Sebagian mereka adalah bulan purnama yang terang, dan sebagian mereka adalah kegelapan. Barang siapa yang mendapat istri yang tepat dan layak, maka ia dijamin bahagia. Dan barang siapa yang salah memilih istri, maka kesengsaraannya tidak bisa diganti

Tanda-tanda istri yang baik yang disebutkan dalam riwayat banyak sekali di antaranya; sebaik-baik istri-istri kalian adalah:
1. Yang penuh kasih sayang.
2. Yang subur dan bisa memberikan keturunan.
3. Saleh dan terjaga kemuliaannya.
4. Terhormat di tengah-tengah keluarganya.
5. Tawadu di hadapan suaminya.
6. Merias dirinya dengan sebaik-baik riasan di hadapan suaminya.
7. Menutup dirinya dari pandangan laki-laki bukan muhrim.
8. Menaati suami dan menghargai ucapannya.

Sebaik-baik wanita adalah wanita yang membuat suaminya senang saat memandangnya, dan menaati suaminya saat diperintah, dan menjaga kehormatan dan harta suaminya saat suaminya tidak ada di rumah. Tentu saja menaati suami di sini adalah bila tidak bertentangan dengan syariat Islam.


Salah satu tugas istri adalah bersikap baik terhadap suaminya. Istri harus bersikap sedemikian rupa sehingga setiap saat suaminya masuk rumah, ia merasakan ketenangan. Dalam hadis dikatakan bahwa jihadnya perempuan adalah bersikap baik terhadap suaminya.

Kita bisa melihat bagaimana kehidupan rumah tangga Imam Ali bin Abi Thalib dengan Sayyidah Fathimah Zahra as. Rasulullah saw bertanya kepada Imam Ali keesokan harinya setelah Sayyidah Fathimah Zahra as dibawa ke rumahnya: “Bagaimana kamu mendapati Fathimah?” Imam Ali menjawab: “Dia adalah partner yang baik dalam ketaatan kepada Allah”. Pada saat yang sama Sayyidah Fathimah adalah istri yang sabar menghadapi segala kekurangan dan tidak pernah mengeluh. Suatu pagi Imam Ali berkata kepada Sayyidah Fathimah Zahra: “Adakah sesuatu yang bisa kau berikan kepadaku untuk kumakan?” Sayyidah Fathimah menjawab: “Tidak ada, sudah dua hari kita tidak memiliki sesuatu, kecuali yang aku berikan kepadamu, dan aku lebih mengutamakanmu daripada anak-anakku”. Imam Ali berkata: “Mengapa kamu tidak meminta kepadaku sehingga aku sediakan sesuatu untukmu?”. Sayyidah Fathimah menjawab: “Aku malu kepada Tuhanku jika aku membebanimu dengan sesuatu di luar kemampuanmu”. Imam Ali as berkata: “Demi Allah! Aku tidak pernah marah terhadap Zahra as sampai Allah mengambilnya kembali, dan dia juga tidak pernah marah terhadapku dan tidak pernah membuatku marah. Setiap saat aku memandang wajah Fathimah as, maka hilanglah semua kesedihanku”

Imam Shadiq as bersabda: “Ada tiga hal yang harus diperhatikan oleh suami:

Pertama, suami menyetujui istrinya (dalam masalah-masalah kehidupan duniawi). Karena hal ini akan membuat istrinya tertarik dan bertambah kadar kasih sayangnya, sehingga ia juga tidak bersikeras dengan kemauannya. Katakanlah sang istri suka warna hijau sementara suami suka warna kuning. Keduanya berencana memasang gorden rumah. Untuk menarik perhatian istri, suami bisa mengalah dan menyetujui kesukaan istri memasang gorden warna hijau, misalnya dengan mengatakan, “terserah kamu, kamu suka warna yang mana!” Atau sebaliknya, istri mengalah dan menyetujui keinginan suami. Bila masing-masing bersikeras mempertahankan kemauannya, maka rumah tidak akan bergorden.

Ada cerita pendek, suatu hari pasangan suami istri datang ke klinik untuk melaksanakan imunisasi bayinya yang belum lama lahir. Anak sampai usia seminggu belum diberi nama, karena masing-masing keduanya bersikeras mempertahankan nama yang dipilih untuk anak perempuannya. Setelah kelahiran anak, bukannya senang, malah ribut karena rebutan nama untuk anaknya
.

Kedua, berakhlak baik terhadap istrinya. Bila karakter seorang laki-laki memang berakhlak mulia, maka mudah baginya berperilaku baik terhadap istrinya. Jika karakternya bukan berakhlak mulia, maka ia harus melatih dirinya berakhlak mulia agar terbiasa berakhlak mulia.

Begitu pula sebaliknya istri juga harus berakhlak mulia terhadap suaminya, baik di tempat khusus seperti rumah maupun di tempat umum. Suami atau istri yang tidak berakhlak mulia terhadap pasangan hidupnya di tempat umum, ia telah menjatuhkan kehormatan suaminya di hadapan orang lain. Dalam hal ini Imam Hasan as mengatakan: “Kawinkanlah anak perempuanmu dengan laki-laki yang bertakwa. Karena, jika ia mencintai anakmu, ia akan menghormatinya, dan kalau ia tidak mencintainya, maka ia tidak akan menzalimi anakmu”.

Ketiga, menjaga kerapian pakaian, rambut dan penampilan untuk menarik perhatian istrinya. Karena istri sebagai manusia yang berperasaan, ia senang bila suaminya berpenampilan rapi.


Dalam riwayat Ahlul Bait as, laki-laki atau perempuan yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut bisa menjadi pasangan hidup yang baik:
1. Beragama.
2. Berbudi pekerti luhur.
3. Komitmen dengan hukum-hukum ilahi.


Rasulullah saw menyebutkan ciri-ciri seorang muslim yang baik sebagai berikut:
1. Bertakwa.
2. Saleh dan terjaga kemuliaannya.
3. Dilahirkan dari ayah dan ibu yang sehat.
4. Terhormat di tengah-tengah keluarganya.
5. Berprilaku baik terhadap kedua orang tuanya.
6. Tidak membuat istrinya butuh kepada orang lain.


Perkawinan berarti mengalungkan lingkaran hidup bersama. Sebelum memutuskan untuk kawin, seseorang harus teliti, jangan sampai mengalungkan lingkaran hidup yang buruk yang membuat ia sengsara selama hidup. Istri atau suami yang berakhlak buruk, berlidah tajam, suka marah dan cemberut, menguasai pasangan hidupnya, membuat hidup pasangannya menjadi pahit dan tidak menyenangkan. Rumah baginya adalah penjara bahkan lebih buruk dari penjara. Oleh karena itu sebelum memutuskan untuk kawin seseorang harus meneliti siapa calon istri atau suaminya dengan bantuan sesepuh keluarganya yang lebih berpengalaman. Karena kebahagiaan sebuah rumah tangga tidak terjadi secara kebetulan tetapi bergantung pada usaha setiap orang, apakah ia berhasil mendapatkan pasangan hidup yang baik atau tidak. Terutama wanita, ia banyak meniru dan mengikuti karakter ibunya. oleh karena itu, pepatah mengatakan, “bila mau mengambil menantu wanita, maka lihatlah karakter dan akhlak ibunya!”. Karena hal ini sangat berperan dalam kehidupan rumah tangga seseorang.


Tidak sedikit perkawinan yang diakhiri dengan perceraian karena tidak adanya kecocokan, terutama dalam masalah akhlak, perilaku dan selera. Istri atau suami yang berakhlak buruk ketika masih hidup bersama akan menyebabkan kesengsaraan pasangan hidupnya. Kehidupan bagi pasangan yang bertahan menghadapi keburukan akhlak pasangannya bagaikan jahanam. Dunia baginya tidak menyenangkan. Karena satu-satunya tempat tinggal baginya adalah rumah, bagaimana tidak seperti jahanam bila menghadapi pasangan hidup yang berakhlak buruk. Bahkan bila terjadi perceraian, Kesengsaraan ini tidak berhenti sampai di sini, melainkan berlanjut dengan berbagai macam bentuk; seperti rebutan mengasuh anak. Anak menjadi korban keegoisan kedua orang tuanya. Ia tidak berdosa mengapa harus menjadi korban keburukan akhlak orang tuanya yang sudah cerai. Oleh karena itu kesengsaraan yang diakibatkan oleh salah pilih istri/suami buntutnya tidak berhenti dengan perceraian tetapi akan berlanjut bahkan boleh jadi tidak ada akhirnya. Mulai dari korban anak, korban perasaan, depresi yang dihadapi oleh orang-orang yang baru cerai sampai kejahatan yang dilakukan anak korban perceraian. Tidak sedikit fenomena kejahatan dan penyimpangan sosial yang dilakukan oleh anak-anak korban perceraian.


Orang tua yang mengerti, kalaupun terjadi perceraian, mereka akan meminimalkan dampak perceraiannya atas anak-anak yang mereka lahirkan. Dengan tidak mengikut sertakan anak-anak pada masalah yang mereka hadapi berdua.


Kesimpulan; kebahagiaan tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan bisa didapat dengan program dan perencanaan serta riset sebelum terjadi ikatan perkawinan. Karena dengan program dan riset kebahagiaan itu tidak saja akan dirasakan oleh pasangan suami/istri melainkan anak-anak mereka juga akan merasakannya yang berujung kepada kebahagiaan dan keharmonisan masyarakat. Karena keluarga adalah bagian terkecil dari masyarakat. Jika setiap keluarga bisa merasakan kebahagiaan, maka masyarakat juga akan merasakan kebahagiaan.


Teladan keluarga bahagia bagi umat manusia adalah keluarga Imam Ali dan Sayyidah Zahra as yang menghasilkan manusia-manusia suci dan penghulu para pemuda di surga.
Semoga bermanfaat.......Amiiinnn......


Nahjul Fashahah, terjemah Ibrahim Ahmadian, penerbit Sahabuddin, Qom, 1385 hal 313, hadis 3066.
. QS. An-Nur [24]: 26.
. Wasail Asa-Syiah, jilid 14, hal 14.
. Furu Kafi, jilid 5.
. Wafi, jilid 12, hal 14.
. Nahj Al-Fashahah, hal 569.
. Bihar al-Anwar, jilid 43, hal 117.
. Tuhaful Uqul, edisi Persia, terjemah dan tahqiq, Shadeq Hasan Zadeh, Qom, 1385, cet ke 5.
. Bihar al-Anwar, jilid 75, hal 237.
. Makarim al-Akhlak, 1408 hal 214.


 

 

Jumat, 06 Desember 2013

KARET GELANG

Suatu kali saya membutuhkan karet gelang, satu saja. Shampoo yang akan saya bawa tutupnya sudah rusak. Harus dibungkus lagi dengan plastik lalu diikat dengan karet gelang. Kalau tidak bisa berabe. Isinya bisa tumpah ruah mengotori seisi tas. Tapi saya tidak menemukan satu pun karet gelang. Di lemari tidak ada. Di gantungan-gantungan baju tidak ada. Di kolong-kolong meja juga tidak ada. Saya jadi kelabakan. Apa tidak usah bawa shampoo, nanti saja beli di jalan. Tapi mana sempat, waktunya sudah mepet. Sudah ditunggu yang jemput lagi. Akhirnya saya coba dengan tali kasur, tidak bisa. Dipuntal-puntal pakai kantong plastik, juga tidak bisa. Waduh, karet gelang yang biasanya saya buang-buang, sekarang malah bikin saya bingung. Benda kecil yang sekilas tidak ada artinya, tiba-tiba menjadi begitu penting. Saya jadi teringat pada seorang teman waktu di Yogyakarta dulu. Dia tidak menonjol, apalagi berpengaruh. Sungguh, Sangat biasa-bisa saja. Dia hanya bisa mendengarkan saat orang-orang lain ....
... baca selengkapnya di Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

Minggu, 01 Desember 2013

Teladan Ibrahim ‘Alaihissalam Dalam Mendidik Anak

Teladan Ibrahim ‘Alaihissalam Dalam Mendidik Anak

Teladan Ibrahim AS. Dalam Mendidik Anak Teladan Ibrahim Alaihissalam Dalam Mendidik Anak

Al Khalil Ibrahim ‘alaihissalam telah mengajarkan kepada kita pelajaran-pelajaran praktis yang tidak terhitung jumlahnya dalam mendidik anak-anak kita, disana terdapat obat dan solusi bagi permasalahan-permasalahan yang ada di rumah kita pada hari ini yang belum diajarkan oleh nenek moyang kita dulu. Berikut beberapa pelajaran tersebut

Pertama : Memperbaiki Hati Sendiri Sebelum Anak
Sebelum Anda melangkah dan memulai mendidik anak Anda, bahkan sebelum anak Anda dilahirkan hendaknya Anda memulai dengan memperbaiki niat dan hati Anda. Nabi Ibrahim adalah teladan yang baik buat kita tentang hal ini, dimana beliau memulai pertama kali dengan memperbaiki hatinya sampai bersih sebagaimana diceritakan oleh Allah dalam firmannya
 ”إِذْ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ” الصافات : 84
 (Ingatlah) ketika ia datang kepada Tuhannya dengan hati yang suci. (QS. As-Shaffat:84)
Kemudian beliau melanjutkan dengan do’a agar diberikan anak yang shalih
“رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ” الصافات:100
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh. . (QS. As-Shaffat:84).
Do’a seperti ini tidak akan keluar dan terucap kecuali dari hati yang bersih.
Ke Dua : Berbuat baiklah kepada orang tua Anda niscaya anak-anak Anda akan berbuat baik kepada Anda
Coba kita lihat kembali akhlak nabi ibrahim dan kelembutannya, beliau mendoakan ayahnya yang musyrik
“يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا، يَا أَبَتِ لا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَن يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِّنَ الرَّحْمَن فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا” مريم:43-45
Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan”. QS. Maryam:43-45
Meskipun ayahnya bersikap keras dan mengancam akan membunuhnya
 ”لَئِن لَّمْ تَنتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ” مريم:46
Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam QS. Maryam:46
akan tetapi pada saat itu nabi ibrahim sangat santun dan berbakti kepada ayahnya
“قَالَ سَلامٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي” مريم:47
Berkata Ibrahim: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan meminta ampun bagimu kepada Tuhanku. QS. Maryam:47
Karena kebaikan dan kesantunan kepada orang tuanya itulah sehingga Ibarahim layak mendapatkan anak yang baik dan santun pula
 ”فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلامٍ حَلِيمٍ ” الصافات:101
Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. QS. As-Shaffat:101

Ke Tiga : Ajaklah Anak Anda Dialog
Perhatikanlah sebuah dialog yang luar biasa ini, yaitu dialog tentang salah satu perintah Allah yang berkaitan dengan perintah yang sulit pada dirinya, akan tetapi Nabi Ibrahim menjalaninya dengan sebuah doalog yang bijaksana
“قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَى”الصافات:102
Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” QS. As-Shaffat:102
Sungguh Nabi Ibrahim telah menyertakan anaknya dalam pengambilan sebuah keputusan yang sulit dan tidak mewajibkan serta memaksakan kehendak sebagaimana yang dilakukan kebanyakan orang tua saat ini pada anaknya, lalu mereka mengeluh akan rusaknya akhlaq anak-anak mereka dan begitu durhakanya anak-anak tersebut terhadap orang tuanya.
Ketika nabi ibrahim mengajak dialog dan menyertakan anak tersebut dalam pengambilan keputusan penting akhirnya sang anak pun kemudian menjawab
” قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ”الصافات:102
Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. QS. As-Shaffat:102

Ke Empat : Selalu Mendoakan Anak
Rasakan dengan hati Anda betapa kuat keinginan nabi ibrahim agar keturunannya menjadi anak-anak yang shalih melalui doa beliau yang terus menerus dipanjatkan tanpa henti
“وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِي” البقرة:124
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. QS. Al-Baqarah:124

“رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء” سورة إبراهيم:40
Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do`aku. QS. Ibrahim:40
Nabi ibrahim tidak mendapatkan sarana yang lebih baik melainkan melalui doa agar keturunannya kelak menjadi orang-orang yang beriman, dan buah dari kegigihan doa beliau itulah yang akhirnya kemudian Allah menjadikan beliau sebagai أبو الأنبياء, bapaknya para nabi. Oleh karena itu marilah kita balajar dari beliau dan selalu berdoa untuk anak-anak kita khususnya pada waktu sholat dan waktu-waktu dikabulkannya doa
.
Ke Lima : Pembinaan Dan Kontrol Yang Berkelanjutan Terhadap Anak-Anak
Mekipun pada saat itu Nabi Ibrahim tinggal di Palestina dan anaknya Ismail tinggal di Makkah, akan tetapi hal itu tidak menjadikan Ibrahim kemudian lupa dan tidak lagi memantau keadaan anaknya. Nabi Ibrahim masih mengunjungi anaknya dan memantau keadaan anaknya tersebut, termasuk lingkungan yang ditempati Ismail
.
Ke Enam : Sertakan Anak Anda Dalam Melaksanakan Ketaatan
Hal ini terbukti ketika Ibrahim berkata kepada anaknya Isma’il : sesungguhnya Allah memerintahkanku agar membangun rumah disini, Apakah kamu mau membantuku? Isma’il pun  menjawab : Akan aku kerjakan insya Allah.
Anak akan tumbuh sebagaimana kebiasaan kedua orang tuanya dan tarbiyah keluarganya, oleh karena itu biasakanlah meminta bantuan kepada anak Anda ketika mengerjakan kebaikan dan sertakan dia bersama Anda ketika melaksanakan amal-amal ketaatan seperti shalat dan pintu-pintu kebaikan lainnya
.
Ke Tujuh : Tanamkanlah Keikhlasan Di Hati Anak Anda
“وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ”البقرة:127
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdo`a): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. QS. Al-Baqarah:127
Nabi Ibrahim telah mengajarkan kepada kita ketika melaksanakan ketaatan agar kita menisbatkan segala keutamaan hanya kepada Allah saja dan melepaskan daya serta kekuatan kita lalu berdoa kepada Allah agar menerima amal kita. Dengan begitu kita telah menanamkan nilai-nilai keikhlasan pada hati dan jiwa anak-anak kita dan menjauhkan mereka dari sifat sombong dan ujub
Mudah-mudahan Allah SWT. memberkahi kita pada anak-anak dan keturunan kita, menjadikan mereka Qurrota ‘Ain buat kita di dunia dan akhirat. Amin.
Ust. Aminuddin Muhammad Khoilul, Lc.
Pengajar Pusat Studi Islam Al-Manar