CV. MEDIA MANDIRI SEJAHTERA adalah Badan Usaha yang bergerak dibidang Telekomunikasi khususnya Sentral Telephone(PABX) Facsimile dan Security system CCTV yang melayani : Pengadaan / Penjualan, pemasangan instalasi, Program dan perbaikan serta pemeliharaan dari berbagai Merk Khususnya PANASONIC, LG Ericsson, NEC, CP-PLUS dll. Jl. Melati 4 No.78 RT.16 Komplek Griya Permata Handil Bakti Alalak Banjarmasin Telp. 0511-6740688, 082234558033, 08565362008 email: mimiets@gmail.com
Sabtu, 13 April 2013
Minggu, 07 April 2013
FAEDAH SURAH AL FATIHAH
Faedah Surat Al Fatihah
Mengenal Ajaran Islam Lebih Dekat Rumaysho.Com
Surat ini disebut Al Fatihah karena sebagai pembuka dalam mushaf. Al Fatihah adalah surat pertama dalam mushaf Al Qur’an. Surat ini disebut pula Sab’ul Matsaani karena terdiri dari tujuh ayat. Sebagaimana yang Allah sebutkan dalam ayat,
وَلَقَدْ آَتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآَنَ الْعَظِيمَ
“Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al Quran yang agung.” (QS. Al Hijr: 87). Surat Al Fatihah itulah yang disebut sab’ul matsaani. Dalam Zaadul Masiir disebutkan bahwa yang dimaksudkan sab’ul matsaani
(tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang) adalah Fatihatul Kitab.
Pendapat ini dipilih oleh ‘Umar bin Al Khottob, ‘Ali bin Abi Tholib,
salah satu pendapat Ibnu Mas’ud dan pendapat yang banyak dinukil dari
Ibnu ‘Abbas, juga menjadi pendapat Abu Hurairah, Al Hasan Al Bashri dan
Sa’id bin Jubair dalam salah satu pendapatnya dan lainnya.Al Fatihah disebut pula dengan Al Matsaani karena surat tersebut dibaca berulang kali dalam setiap raka’at. Begitu pula surat tersebut disebut Ummul Qur’an (induk Al Qur’an) karena induknya sesuatu berarti yang menjadi tempat rujukan. Makna Al Qur’an semuanya kembali pada surat ini.
Al Fatihah disebut pula Ash Shalah karena surat Al Fatihah disebutkan dalam hadits qudsi berikut dengan penyebutan tersebut,
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ
“Allah Ta’ala berfirman: Aku membagi shalat menjadi dua bagian
antara Aku dan antara hamba-Ku. Bagi hamba-Ku apa yang mereka minta ….” (HR. Muslim no. 395).Mengenai kelanjutan bahasan di atas akan dibahas dalam tulisan selanjutnya, bi idznillah …
Hanya Allah yang memberi taufik dan hidayah.
Surat Al Fatihah disebut pula ash shalah. Surat Al Fatihah disebut shalat karena shalat tidaklah sah kecuali dengan Al Fatihah. Dalilnya adalah hadits qudsi berikut,
عَنْ
أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ
صَلَّى صَلاَةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهْىَ خِدَاجٌ -
ثَلاَثًا - غَيْرُ تَمَامٍ ». فَقِيلَ لأَبِى هُرَيْرَةَ إِنَّا نَكُونُ
وَرَاءَ الإِمَامِ. فَقَالَ اقْرَأْ بِهَا فِى نَفْسِكَ فَإِنِّى سَمِعْتُ
رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « قَالَ اللَّهُ تَعَالَى
قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى نِصْفَيْنِ وَلِعَبْدِى مَا
سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ ( الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
). قَالَ اللَّهُ تَعَالَى حَمِدَنِى عَبْدِى وَإِذَا قَالَ (الرَّحْمَنِ
الرَّحِيمِ ). قَالَ اللَّهُ تَعَالَى أَثْنَى عَلَىَّ عَبْدِى. وَإِذَا
قَالَ (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ). قَالَ مَجَّدَنِى عَبْدِى - وَقَالَ
مَرَّةً فَوَّضَ إِلَىَّ عَبْدِى - فَإِذَا قَالَ (إِيَّاكَ نَعْبُدُ
وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ). قَالَ هَذَا بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى
وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ. فَإِذَا قَالَ (اهْدِنَا الصِّرَاطَ
الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ
الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ ). قَالَ هَذَا لِعَبْدِى
وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ ».
Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Barangsiapa
yang shalat lalu tidak membaca Ummul Qur’an (yaitu Al Fatihah), maka
shalatnya kurang (tidak sah) -beliau mengulanginya tiga kali-, maksudnya
tidak sempurna.” Maka dikatakan pada Abu Hurairah bahwa kami shalat di
belakang imam. Abu Hurairah berkata, “Bacalah Al Fatihah untuk diri
kalian sendiri karena aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
salam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku membagi shalat (maksudnya: Al Fatihah)
menjadi dua bagian, yaitu antara diri-Ku dan hamba-Ku dua bagian dan
bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Jika hamba mengucapkan ’alhamdulillahi
robbil ‘alamin (segala puji hanya milik Allah)’, Allah Ta’ala berfirman:
Hamba-Ku telah memuji-Ku. Ketika hamba tersebut mengucapkan ‘ar
rahmanir rahiim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)’, Allah Ta’ala
berfirman: Hamba-Ku telah menyanjung-Ku. Ketika hamba tersebut
mengucapkan ‘maaliki yaumiddiin (Yang Menguasai hari pembalasan)’, Allah
berfirman: Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku. Beliau berkata sesekali:
Hamba-Ku telah memberi kuasa penuh pada-Ku. Jika ia mengucapkan ‘iyyaka
na’budu wa iyyaka nasta’in (hanya kepada-Mu kami menyebah dan hanya
kepada-Mu kami memohon pertolongan)’, Allah berfirman: Ini antara-Ku dan
hamba-Ku, bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Jika ia mengucapkan
‘ihdiinash shiroothol mustaqiim, shirootolladzina an’amta ‘alaihim,
ghoiril magdhuubi ‘alaihim wa laaddhoollin’ (tunjukkanlah pada kami
jalan yang lurus, yaitu jalan orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan
jalan orang yang dimurkai dan bukan jalan orang yang sesat), Allah
berfirman: Ini untuk hamba-Ku, bagi hamba-Ku apa yang ia minta.” (HR. Muslim no. 395). Juga dalam hadits di atas disebut pula bahwa Al Fatihah disebut pula Ummul Qur’an.Dalam penjelasan hadits qudsi di atas disebutkan bahwa surat Al Fatihah yang tujuh ayat terbagi menjadi dua. Tiga-setengah ayat yang pertama adalah untuk Allah dan sanjungan untuk-Nya. Tiga-setengah ayat yang berikutnya adalah untuk hamba, yaitu mulai dari ayat ‘wa iyyaka nasta’in’ hingga akhir surat.
Al Fatihah Disebut Juga Ruqyah
Surat Al Fatihah disebut pula ruqyah. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Sa’id Al Khudri berikut ini,
عَنْ
أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ
-صلى الله عليه وسلم- كَانُوا فى سَفَرٍ فَمَرُّوا بِحَىٍّ مِنْ أَحْيَاءِ
الْعَرَبِ فَاسْتَضَافُوهُمْ فَلَمْ يُضِيفُوهُمْ. فَقَالُوا لَهُمْ هَلْ
فِيكُمْ رَاقٍ فَإِنَّ سَيِّدَ الْحَىِّ لَدِيغٌ أَوْ مُصَابٌ. فَقَالَ
رَجُلٌ مِنْهُمْ نَعَمْ فَأَتَاهُ فَرَقَاهُ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ
فَبَرَأَ الرَّجُلُ فَأُعْطِىَ قَطِيعًا مِنْ غَنَمٍ فَأَبَى أَنْ
يَقْبَلَهَا. وَقَالَ حَتَّى أَذْكُرَ ذَلِكَ لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه
وسلم-. فَأَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ.
فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَاللَّهِ مَا رَقَيْتُ إِلاَّ بِفَاتِحَةِ
الْكِتَابِ. فَتَبَسَّمَ وَقَالَ « وَمَا أَدْرَاكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ ».
ثُمَّ قَالَ « خُذُوا مِنْهُمْ وَاضْرِبُوا لِى بِسَهْمٍ مَعَكُمْ »
Dari Abu Sa’id Al Khudri, bahwa ada sekelompok sahabat Rasulullah
-shallallahu ‘alaihi wa sallam- dahulu berada dalam safar (perjalanan
jauh), lalu melewati suatu kampung Arab. Kala itu, mereka meminta untuk
dijamu, namun penduduk kampung tersebut enggan untuk menjamu. Penduduk
kampung tersebut lantas berkata pada para sahabat yang mampir, “Apakah
di antara kalian ada yang bisa meruqyah (melakukan pengobatan dengan
membaca ayat-ayat Al Qur’an, -pen) karena pembesar kampung tersebut
tersengat binatang atau terserang demam.” Di antara para sahabat lantas
berkata, “Iya ada.” Lalu ia pun mendatangi pembesar tersebut dan ia
meruqyahnya dengan membaca surat Al Fatihah. Akhirnya, pembesar tersebut
sembuh. Lalu yang membacakan ruqyah tadi diberikan seekor kambing,
namun ia enggan menerimanya -dan disebutkan-, ia mau menerima sampai
kisah tadi diceritakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu ia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
dan menceritakan kisahnya tadi pada beliau. Ia berkata, “Wahai
Rasulullah, aku tidaklah meruqyah kecuali dengan membaca surat Al
Fatihah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas tersenyum dan berkata, “Bagaimana engkau bisa tahu Al Fatihah adalah ruqyah (artinya: bisa digunakan untuk meruqyah, -pen)?” Beliau pun bersabda, “Ambil kambing tersebut dari mereka dan potongkan untukku sebagiannya bersama kalian.”
(HR. Bukhari no. 5736 dan Muslim no. 2201). Imam Nawawi membuat Bab
dalam Shahih Muslim tentang bolehnya mengambil upah dari ruqyah dengan
Al Qur’an atau dzikir.Demikian beberapa pembahasan nama untuk Al Fatihah. Moga bermanfaat. Moga Allah mudahkan untuk melanjutkan pada bahasan selanjutnya. Hanya Allah yang memberi petunjuk hidayah.
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam” (QS. Al Fatihah: 2)Syaikh Muhammad At Tamimi rahimahullah mengatakan bahwa dalam ayat ini terkandung makna mahabbah (cinta). Karena Allah itu pemberi berbagai macam nikmat sehingga Allah itu dipuji dan disanjung. Setiap yang memberi nikmat atau kebaikan akan disanjung sesuai kadar nikmat yang diberikan. Allah itu juga dipuji karena zat, nama, sifat dan perbuatan-Nya yang mulia. Sehingga itulah yang membuat Allah itu dicinta.
Mahabbah (cinta) itu sendiri ada empat bentuk:
1- Mahabbah syirkiyyah (cinta yang bernilai syirik).
Inilah seperti yang difirmankan oleh Allah Ta’ala,
وَمِنَ
النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ
كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah
tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka
mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya
kepada Allah.”(QS. Al Baqarah: 165).Ada dua tafsiran untuk ayat “yuhibbunahum ka-hubbillah”,
1- Maknanya adalah,
يحبونهم كحب الذين آمنوا لله
“Orang musyrik mencintai sesembahan mereka sebagaimana kecintaan orang beriman pada Allah”. Tafsiran pertama ini dipilih oleh Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, Abul ‘Aliyah, Ibnu Zaid, Maqotil dan Al Faro’.2- Maknanya adalah,
يحبونهم كمحبتهم لله
“Orang musyrik mencintai sesembahan mereka sebagaimana kecintaan orang musyrik pada Allah.” Yaitu mereka menyamakan kecintaan kepada sesembahan mereka dengan kecintaan pada Allah. Demikian pendapat Az Zujaj.Tafsiran kedua lebih baik karena melihat kelanjutan ayat,
وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
“Orang beriman lebih tinggi cintanya pada Allah”. Artinya,
orang beriman lebih mencintai Allah melebihi kecintaan orang musyrik
pada sesembahan mereka. Karena kecintaan orang musyrik terbagi dua. Dan
tafsiran kedua itulah yang menunjukkan syirik dalam mahabbah (cinta).
Inilah makna yang tepat untuk dipakai. Lihat dua tafsiran di atas dalam Zaadul Masiir, karya Ibnul Jauzi.Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyah berkata,
وَالْأَوَّلُ
قَوْلٌ مُتَنَاقِضٌ وَهُوَ بَاطِلٌ فَإِنَّ الْمُشْرِكِينَ لَا يُحِبُّونَ
الْأَنْدَادَ مِثْلَ مَحَبَّةِ الْمُؤْمِنِينَ لِلَّهِ
“Tafsiran pertama sangat bertentangan dan batil karena orang musyrik
tidaklah mencintai sesembahan mereka sebagaimana orang mukmin mencintai
Allah.” (Majmu’ Al Fatawa, 7: 188).Intinya, orang musyrik sangat mencintai sesembahan mereka dan kecintaan mereka menyamai kecintaan pada Allah, bahkan bisa jadi lebih. Oleh karenanya, mereka rela mati demi membela sesembahan mereka. Bahkan kalau nama Allah saja yang disebut, mereka tidak rela sampai disebut pula yang mereka agungkan. Kita dapat melihat pada firman Allah Ta’ala,
وَإِذَا
ذُكِرَ اللَّهُ وَحْدَهُ اشْمَأَزَّتْ قُلُوبُ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ
بِالْآَخِرَةِ وَإِذَا ذُكِرَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ إِذَا هُمْ
يَسْتَبْشِرُونَ
“Dan apabila hanya nama Allah saja disebut, kesallah hati
orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat; dan apabila
nama sembahan-sembahan selain Allah yang disebut, tiba-tiba mereka
bergirang hati.” (QS. Az Zumar: 45).Namun kenyataan yang terjadi, cinta (mahabbah) mereka terhadap yang mereka agung-agungkan tidaklah bermanfaat di akhirat kelak. Bahkan yang ada nantinya adalah saling laknat di antara mereka di akhirat. Sebagaimana yang Allah Ta’ala sebutkan,
وَقَالَ
إِنَّمَا اتَّخَذْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا مَوَدَّةَ
بَيْنِكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُ
بَعْضُكُمْ بِبَعْضٍ وَيَلْعَنُ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَمَأْوَاكُمُ النَّارُ
وَمَا لَكُمْ مِنْ نَاصِرِينَ
“Dan berkata Ibrahim: "Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu
sembah selain Allah adalah untuk menciptakan perasaan kasih sayang di
antara kamu dalam kehidupan dunia ini kemudian di hari kiamat sebahagian
kamu mengingkari sebahagian (yang lain) dan sebahagian kamu mela'nati
sebahagian (yang lain); dan tempat kembalimu ialah neraka, dan sekali-
kali tak ada bagimu para penolongpun.” (QS. Al ‘Ankabut: 25).Cinta yang bermanfaat adalah cinta karena Allah yang dilandasi ketakwaan. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az Zukhruf: 67). Dalam tafsir Al Jalalain (hal.
505) disebutkan bahwa pertemanan tersebut dilandasi kemaksiatan di
dunia, maka pada hari kiamat pertemanan akhirnya menjadi bermusuhan,
yang tetap adalah pertemanan yang dilandasi karena Allah yaitu karena
taat kepada-Nya, itulah pertemanan yang kekal abadi.2- Cinta pada kebatilan dan pelaku kebatilan, serta benci pada kebenaran dan orang yang berada di atas kebenaran. Inilah sifat orang munafik.
Dikatakan sifat orang munafik karena nifak adalah menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafiran. Di antara sifat orang munafik adalah mencintai penganut kebatilan dan membenci penganut kebenaran. Jadi orang yang membenci orang yang berada di atas kebenaran, seperti para sahabat radhiyallahu ‘anhum, mereka itu munafik walau mereka menampakkan keislaman. Bahkan mereka yang mencaci sahabat ini adalah orang yang kafir.
3- Cinta tabi’at, yaitu cinta secara tabi’at atau fitrah. Seperti seseorang mencintai orang tua, istri, anak, kerabat dan teman dekatnya. Bahkan setiap orang punya kecenderungan mencintai orang yang berbuat baik padanya sekadar dengan kebaikan yang diberikan.
Cinta tabi’at ini asalnya adalah boleh selama tidak sampai melalaikan dari kecintaan pada Allah atau selama tidak menjerumuskan dalam keharaman. Kita dapat mengambil pelajaran dari firman Allah,
قُلْ
إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ
وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ
كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ
وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ
اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
“Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara,
isteri-isteri, kerabatmu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan
yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai,
adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di
jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan
Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS.
At Taubah: 24). Ancamannya sebagaimana disebutkan dalam akhir ayat yaitu
jika sampai kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya dikalahkan dengan
kecintaan pada hal-hal yang disebutkan.4- Cinta kepada wali Allah dan membenci musuh Allah.
Inilah kecintaan yang disebut dengan wala’ atau loyal, yaitu kecintaan dan kebenciannya didasari karena Allah, bukan karena kepentingan dunia, politik atau karena sama-sama satu bendera. Jika seseorang mencintai tauhid, maka ia harus mencintai pula ahli tauhid. Jika seseorang membenci syirik, maka ia harus membenci pula orang musyrik. Kecintaan dan kebencian di sini sekali lagi dilakukan karena Allah.
Moga Allah mudahkan untuk melanjutkan faedah surat Al Fatihah yang lainnya. Hanya Allah yang memberi taufik dan kekuatan.
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan” (QS. Al Fatihah: 5)Pelajaran Tauhid dari Iyyaka Na’bud wa Iyyaka Nasta’in
Dalam ayat iyyaka na’bud, hanya kepadaMu-lah kami beribadah terdapat kandungan tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah. Sedangkan dalam ayat iyyaka nasta’in (hanya kepadaMu-lah kami meminta pertolongan) terdapat kandungan tauhid rububiyah.
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan hamba yaitu ibadah hanya ditujukan pada Allah saja. Kandungan tauhid ini terdapat dalam iyyaka na’budu karena ayat ini berarti kita hanya menyerahkan ibadah kepada Allah saja.
Adapun tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan Allah, yaitu dalam hal penciptaan, pemberian rizki, pengatur alam semesta, dan penguasa jagad raya. Dan memberi pertolongan termasuk dalam perbuatan Allah. Pembahasan tauhid rububiyah ini terdapat dalam iyyaka nasta’in karena ayat ini berarti kita hanya meminta pertolongan pada Allah semaata. Sehingga dalam ayat kelima dari surat Al Fatihah terdapat kandungan dua macam tauhid yaitu tauhid uluhiyah dan tauhid rububiyah. Sehingga kita mesti mengesakan Allah dalam ibadah dan juga dalam perbuatan Allah.
Melanggar Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in
Kalau ada seseorang yang berbuat syirik pada Allah dengan memalingkan suatu ibadah, seperti dengan memberikan tumbal pada jin atau setan, menyajikan sedekah laut untuk makhluk ghaib semacam Nyi Roro Kidul, maka ia berarti telah melanggar ayat iyyaka na’budu yang minimal 17 kali dibaca dalam sehari pada shalat wajib.
Jika seseorang yakin bahwa ada selain Allah yang bisa memberikan pertolongan dalam menyelesaikan hajatnya di mana pertolongan tersebut hanya bisa dipenuhi oleh Allah seperti dalam mengabulkan do’a, memberikan barokah atau mendatangkan manfaat dan mudhorot (bahaya), maka ia telah melanggar tauhid rububiyah yang ia baca pada ayat iyyaka nasta’in. Karena satu-satunya yang bisa mengabulkan do’a, memberikan barokah serta mendatangkan manfaat dan mudhorot hanyalah Allah, tidak yang lainnya.
Hanya Allah yang memberi petunjuk dan hidayah untuk mentauhidkan-Nya dengan sebenarnya.
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan” (QS. Al Fatihah: 5)Pelajaran Tauhid dari Iyyaka Na’bud wa Iyyaka Nasta’in
Dalam ayat iyyaka na’bud, hanya kepadaMu-lah kami beribadah terdapat kandungan tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah. Sedangkan dalam ayat iyyaka nasta’in (hanya kepadaMu-lah kami meminta pertolongan) terdapat kandungan tauhid rububiyah.
Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan hamba yaitu ibadah hanya ditujukan pada Allah saja. Kandungan tauhid ini terdapat dalam iyyaka na’budu karena ayat ini berarti kita hanya menyerahkan ibadah kepada Allah saja.
Adapun tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah dalam perbuatan Allah, yaitu dalam hal penciptaan, pemberian rizki, pengatur alam semesta, dan penguasa jagad raya. Dan memberi pertolongan termasuk dalam perbuatan Allah. Pembahasan tauhid rububiyah ini terdapat dalam iyyaka nasta’in karena ayat ini berarti kita hanya meminta pertolongan pada Allah semaata. Sehingga dalam ayat kelima dari surat Al Fatihah terdapat kandungan dua macam tauhid yaitu tauhid uluhiyah dan tauhid rububiyah. Sehingga kita mesti mengesakan Allah dalam ibadah dan juga dalam perbuatan Allah.
Melanggar Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in
Kalau ada seseorang yang berbuat syirik pada Allah dengan memalingkan suatu ibadah, seperti dengan memberikan tumbal pada jin atau setan, menyajikan sedekah laut untuk makhluk ghaib semacam Nyi Roro Kidul, maka ia berarti telah melanggar ayat iyyaka na’budu yang minimal 17 kali dibaca dalam sehari pada shalat wajib.
Jika seseorang yakin bahwa ada selain Allah yang bisa memberikan pertolongan dalam menyelesaikan hajatnya di mana pertolongan tersebut hanya bisa dipenuhi oleh Allah seperti dalam mengabulkan do’a, memberikan barokah atau mendatangkan manfaat dan mudhorot (bahaya), maka ia telah melanggar tauhid rububiyah yang ia baca pada ayat iyyaka nasta’in. Karena satu-satunya yang bisa mengabulkan do’a, memberikan barokah serta mendatangkan manfaat dan mudhorot hanyalah Allah, tidak yang lainnya.
Hanya Allah yang memberi petunjuk dan hidayah untuk mentauhidkan-Nya dengan sebenarnya.
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
“Tunjukilah (berilah hidayah) kami jalan yang lurus” (QS. Al Fatihah: 6).Bid’ah Menyelisihi Jalan yang Lurus
Kata Syaikh Muhammad At Tamimi rahimahullah, ayat ini berisi bantahan terhadap orang yang berbuat bid’ah. Alasan dari maksud Syaikh Muhammad, karena bid’ah itu menyelisihi jalan yang lurus (shirotol mustaqim). Jalan Allah itu jalan yang lurus dan jelas untuk ditempuh. Allah Ta’ala berfirman,
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus,
maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang
lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya.”
(QS. Al An’am: 153). Jalan yang lurus itu satu, sedangkan jalan
kesesatan itu banyak. Dan jalan yang lurus itulah yang kita ikuti.Memahami Dua Macam Hidayah
Setelah Syaikh Muhammad menyampaikan faedah di atas, -guru kami- Syaikh Sholih Al Fauzan hafizhohullah menyampaikan pelajaran penting lainnya tentang masalah hidayah. Beliau menjelaskan bahwa hidayah itu ada dua macam:
1- Hidayah dalalah wa irsyad, yaitu memberikan penjelasan
2- Hidayah tawfiq wa tasdiid, yaitu menerima dan menjalankan kebenaran.
Hidayah yang pertama dimaksudkan untuk seluruh makhluk baik muslim maupun kafir, yaitu berupa penjelasan bagi mereka berupa kebenaran. Karena Allah telah menjelaskan kebenaran pada setiap makhluk, namun orang kafir enggan menerima. Allah Ta’ala berfirman,
وَأَمَّا ثَمُودُ فَهَدَيْنَاهُمْ فَاسْتَحَبُّوا الْعَمَى عَلَى الْهُدَى
“Dan adapun kaum Tsamud, maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk” (QS. Fushshilat: 17). Dalam ayat ini, petunjuk yang dimaksud adalah hidayah dalalah wa irsyad, yaitu berupa penjelasan. Hidayah semacam ini ditujukan pada seluruh makhluk sampai pun pada orang kafir seperti kaum Tsamud.Adapun hidayah kedua adalah hidayah untuk menerima kebenaran atau untuk menjalankan penjelasan yang telah diberikan. Inilah yang disebut dengan hidayah taufik. Dan ini diberikan khusus pada orang beriman.
Sehingga dalam shalat kita ketika membaca Al Fatihah ini, maka berarti kita meminta pada Allah dua macam hidayah di atas.
Dalam dakwah atau mengajak yang lain dalam kebaikan, tugas kita hanyalah menyampaikan penjelasan (hidayah dalalah wal irsyad), sedangkan hidayah taufik untuk menerima kebenaran hanyalah pada kuasa Allah. Sampai pada orang yang kita cintai pun kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk hidayah taufik ini.
Semoga Allah memudahkan kita untuk terus berada di jalan yang lurus. Hanya Allah yang memberi taufik.
اهْدِنَا
الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6) صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ (7)
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang
telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang
dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al Fatihah: 6-7).Jalan yang lurus itulah yang senantiasa kita minta pada Allah. Jalan lurus inilah jalan orang yang diberi nikmat, bukan jalan orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang yang sesat.
Golongan Orang yang Dimurkai
Inilah golongan pertama. Mereka adalah golongan yang dimurkai. Sifat mereka adalah orang yang berilmu namun enggan mengamalkan ilmunya. Merekalah Yahudi dan yang sejalan dengan mereka dari umat ini yang punya sifat memiliki ilmu, namun tidak mau mengamalkan ilmunya.
Golongan Orang yang Sesat
Golongan orang yang sesat, inilah yang kedua. Mereka adalah ahli ibadah, namun tidak memiliki ilmu. Mereka beribadah pada Allah, namun asal-asalan dengan membuat amalan tanpa tuntunan. Merelah orang sufi dan pelaku bid’ah. Mereka semua masuk dalam golongan yang sesat. Karena mereka sibuk dengan ibadah namun meninggalkan ilmu. Bahkan mereka sampai mengatakan bahwa dengan belajar malah bisa melalaikan dari ibadah.
Pelajaran Dilihat dari Umumnya Lafazh
Maksud ayat ‘maghdub ‘alaihim’ (orang yang dimurkai) adalah untuk kalangan Yahudi dan ‘dhoolliin’ (orang yang sesat) adalah untuk orang Nashrani. Namun ayat tersebut tidak berlaku pada mereka saja, namun setiap yang punya sifat yang sama dengan mereka. Para ulama berkata,
العبرة بعموم اللفظ لا بخصوص السبب
“Pelajaran dapat dipetik dari keumuman lafazh, bukan dari kekhususan sebab.”Oleh karenanya pula, sebagian salaf mengatakan,
من فسد من علمائنا ففيه شبه من اليهود, ومن فسد من عبادنا ففيه شبه من النصارى
“Barangsiapa yang rusak dari ulama kita (yang berilmu), maka mereka
punya keserupaan dengan Yahudi. Dan barangsiapa yang rusak dari ahli
ibadah kita, maka mereka punya keserupaan dengan Nashrani.”Golongan yang Memperoleh Nikmat
Golongan yang selamat adalah golongan yang ketiga ini. Mereka memiliki sifat berilmu dan beramal. Merekalah golongan yang diberi nikmat sebagaimana disebutkan pula dalam ayat lainnya,
وَمَنْ
يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ
عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ
وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا
“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu
akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah,
yaitu: para nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan
orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS. An Nisa’: 69). Jika kita ingin menjadi orang yang mendapatkan nikmat, maka kumpulkanlah sifat memiliki ilmu nafi’ (bermanfaat) dan beramal sholih.Bukan Karena Upaya dan Kerja Keras Kita
Supaya menjadi golongan yang diberi nikmat adalah karunia dari Allah, bukan dari usaha kita. Oleh karenanya dalam surat Al Fatihah sudah disebutkan bahwa kita meminta pada Allah hidayah supaya berada di jalan yang lurus. Artinya, untuk berada di atas jalan tersebut hanya dengan karunia Allah, bukan karena daya dan upaya kita. Jadi Allah-lah yang memberi taufik untuk memperoleh ilmu yang bermanfaat. Allah-lah yang memberi taufik untuk dapat beramal sholih. Jika Allah menghendaki tentu kita pun bisa menjadi orang yang dimurkai dan yang sesat. Jadi yang mengeluarkan dari dua golongan celaka tersebut adalah Allah. Dia-lah yang menjadikan kita dapat menempuh jalan para nabi, shiddiqin, syuhada’ dan orang sholih. Jadi bukan karena upaya dan kerja keras kita namun karena karunia dari Allah.
Ibnul Qayyim dalam Al Qosidah An Nuniyah mengatakan,
لو شاء ربك كنت أيضا مثلهم*** فالقلب بين أصابع الرحمن
“Jika Rabbmu mau tentu engkau akan semisal dengan mereka. Karena hati di antara jari jemari Ar Rahman (yaitu Allah)”Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang diberi nikmat, bukan termasuk yang dimurkai dan bukan pula yang sesat. Hanya Allah yang memberi hidayah.
Jika kita merenungkan kembali surat Al Fatihah, kita dapat semakin mengenal Allah secara sempurna melalui nama dan sifat-Nya yang sempurna. Juga kita akan semakin tahu bahwa Allah pun jauh dari sifat kekurangan. Sehingga dari pengenalan seperti ini semakin bertambah keimanan dan keyakinan kita.
Juga melalui surat Al Fatihah kita pun akan semakin mengenal diri bahwa diri ini begitu lemah. Kita pun sangat butuh pada Allah Ta’ala. Oleh karenanya, kita terus membaca surat Al Fatihah berulang-ulang setiap raka’at karena kita sangat butuh pada surat ini. Karena dalam surat ini terdapat do’a yang bermanfaat yaitu doa memohon taufik Allah yang jika doa ini terkabul, kita dapat bahagia di dunia dan di akhirat. Namun surat ini bisa bermanfaat jika kita mau merenungkan atau mentadabburinya. Kata Ibnul Qayyim dalam Al Qoshidah An Nuniyyah,
فتدبر القرآن ان رمت الهدى*** فالعلم تحت تدبر القرآن
“Renungkanlah Al Qur’an jika engkau ingin memperoleh petunjuk, karena ilmu didapati dengan merenungkan Al Qur’an”Jika Al Fatihah Semakin Direnungkan
Jika ada Rabb yang mentarbiyah (mengatur), maka tentu ada makhluk yang ditarbiyah.
Jika ada Allah yang Maha Penyayang, maka tentu ada yang disayang.
Jika ada Yang Maha Menguasai, maka tentu ada yang dikuasai.
Jika ada hamba, maka tentu ada yang disembah, yaitu Allah.
Jika ada Yang Memberi Petunjuk, maka tentu ada yang mendapat petunjuk.
Jika ada Yang Memberikan Nikmat (mun’im), maka tentu ada yang diberi nikmat.
Jika ada yang dimurkai (magdhub ‘alaihim), maka tentu ada yang murka, yaitu Allah.
Jika ada yang sesat (dhollun), maka tentu ada yang menyesatkan, yaitu Allah.
Pelajaran tauhid uluhiyah, rububiyyah dan penunjukkan bahwa Allah bersih dari kekurangan, juga kandungan pengenalan dan rukun ibadah telah ada dalam surat Al Fatihah.
Wallahu a’lam. Wa shallallahu wa sallam ‘ala nabiyyina Muhammad.
Referensi:
Syarh Ba’du Fawaidh Surotil Fatihah, -guru kami- Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al Fauzan, terbitan Dar Al Imam Ahmad
Syarh Ba’du Fawaidh Surotil Fatihah, -guru kami- Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al Fauzan, terbitan Dar Al Imam Ahmad
Langganan:
Postingan (Atom)