Anak
adalah rahasia kesuksesan kita, yaitu jika kita betul-betul sudah
menyiapkan anak kita, sehingga tauhid dan akidah si anak menjadi lurus.
Ada
sebuah cerita tentang seorang pemuda yang akan dihukum mati. Pemuda ini
memohon satu permintaan, yaitu sebelum dia dihukum mati, dia memohon
dapat mencium ibunya, dan permohonan itu dikabulkan. Setelah dia mencium
ibunya, maka ia kembali lagi ke tempat hukuman mati tersebut. Beberapa
saat kemudian, pemuda ini memohon lagi untuk mendapatkan kesempatan satu
kali lagi, yaitu untuk mencium lidah ibunya. Maka pemuda itu diberikan
izin kembali, dan kemudian dia mencium lidah ibunya, dan dalam waktu
yang begitu cepat, pemuda ini menggigit lidah ibunya sampai putus. Na’uzubillahi min zalik.
Apakah
gerangan yang menjadi alasan bagi sang pemuda hingga tega menggigit
lidah ibunya tersebut? Mungkin dapat dikatakan ini adalah anak ahli
neraka. Sudah mau dihukum mati karena keburukan akhlaknya, masih saja
melakukan keburukan yang lain.
Hendaklah
kita belajar dari apa yang terjadi di alam ini. Semua fenomena ini
diberikan kepada kita untuk kemudian menjadi pemikiran kita, dan juga
menjadi dorongan hidayah bagi kita.
Pemuda
tersebut mengatakan, “Belajarlah dari apa yang aku lakukan, wahai para
Ibu. Selama aku tumbuh menjadi remaja, ibuku tidak meluruskanku.”
Dari cerita ini, dapatlah kita ambil hikmahnya, yaitu sesungguhnya anak-anak pada dasarnya menyukai kelurusan.
Dari
hasil sebuah penelitian yang sudah cukup lawas dan bisa menjadi suatu
acuan bagi kita, yaitu bagaimana anak-anak kita digoda oleh sebuah ghazwul fiqr,
yaitu penjajahan pola pikir yang luar biasa di usia 14 – 21 tahun.
Karena pada usia ini, ia sudah membangun dunianya sendiri. Ia sudah
tidak hidup di dunia anak-anak yang masih lengket dengan ibunya. Ia
sudah mau meluncur bagai anak panah yang melesat, dan dia berkata, “Aku
mau melakukan apa yang ingin aku lakukan.” Dia sudah membangun dunianya
sendiri.
Salah satu hal yang menjadi konsentrasi dan kepedulian kita yang utama adalah bagaimana tarbiyah jinsiyah
(pendidikan seksualitas)-nya kita lakukan, yang hari ini kita ditantang
betul untuk menjadi Ayah dan Ibu. Apakah kita mau menjadi orang tua
yang sukses lahir dan batin, atau kita sukses lahir saja. Kalau kita
mencari akhirat, sudah pasti dunia akan mengikuti kita. Tapi jika hanya
mencari dunia, sudah pasti akhirat meninggalkan kita.
Menurut penelitian tersebut (pada tahun 1987), tempat jima’
(senggama) remaja yang hamil, mereka melakukannya di sekolah 28%, di
taman 4,9%, di mobil 4%, di hotel 11,2%, di tempat parkir 2,78%, dan
yang tertinggi dilakukan adalah di rumah yaitu 83% lebih.
Jadi
dari data penelitian ini (tahun 1987), sudah begitu parahnya kehidupan
anak-anak kita, sedangkan waktu itu siaran televisi di Indonesia masih
begitu sedikitnya (hanya satu, yaitu TVRI). Kemudian pada tahun-tahun
berikutnya barulah bermunculan stasiun-stasiun televisi swasta dengan ghazwal fiqr (penjajahan
pola pikir)-nya, yang dipasok terus menerus kepada anak-anak kita,
sehingga mereka meyakini, bahwa yang mereka lihat itu adalah suatu hal
yang benar. Bukankah dua kemampuan utama yang diberikan kepada setiap
bayi adalah pendengaran dan penglihatan. Sayyid Qutb mengatakan, bahwa
dari pendengaran dan penglihatan inilah masuknya berbagai macam faham
dan ideologi.
Jadi,
hal ini memiliki korelasi dengan kenyataan, bahwa anak-anak kita di
usia 21 tahun adalah yang terbanyak mengunjungi pelacuran. Mengapa?
Ternyata barulah kita ketahui, bahwa Indonesia (dan ini di Jawa Timur)
merupakan lokalisasi pelacuran yang paling besar di Asia Tenggara, yaitu
dengan jumlah PSK-nya pada tahun 1987 yaitu sebanyak 7.500 orang. Itu
baru di salah satu tempat. Kini belum dilakukan lagi penelitian serupa,
tapi sekarang sudah bisa disinyalir (dengan jangka waktu sebelas tahun
dari tahun 1987 hingga sekarang), apalagi dengan perkembangan teknologi
kini yang sudah begitu laju melesatnya, yang di satu sisi teknologi
tersebut memberikan dampak positif, namun di sisi lainnya juga membawa
dampak negatif.
Anak adalah amanat dari Allah. Apakah kita mau memiliki generasi yang hebat? Semuanya tergantung dari kita semua.
Seorang
ahli mengatakan, bahwa yang nomor satu atau paling fundamental
(mendasar) dari hubungan kita dengan anak kita yang berumur 14 – 21
tahun adalah cuma dua agendanya, yaitu harus kita tinggalkan cara kita
yang dulu yang disebut concrete movement menjadi hidden movement. Kalau kita masih menggunakan cara concrete movement, maka dijamin anak kita tidak akan terlalu senang dilakukan seperti itu. Hidden movement adalah
memberikan contoh, yaitu bagaimana kita sebagai orang tua memberikan
contoh yang baik kepada anak kita secara perlahan-lahan, yang di
dalamnya terdapat perhatian yang begitu spesial kepada anak kita.
Ada beberapa poin yang harus kita siapkan untuk bergaul dengan sukses kepada anak kita:
Pertama-tama,
kita lihat dulu tiga citraan, apakah kita dapat mengkonfirmasi citraan
anak kita itu terhadap dirinya sendiri. Gambaran dia terhadap dirinya
yang kita bangun selama ini dari 0 sampai 14 tahun itu sesuai tidak
dengan citraan dia yang ada di luar? Gambaran dia yang kita bangun itu
apakah lebih baik atau lebih buruk dari citraan dia terhadap yang
dipasok oleh luar. Misalnya dalam hal pacaran. Apakah gambaran dia itu
bahwa dirinya memang wajar dan sepatutnya untuk punya pacar? Apakah dia
seperti itu? Dia berurusan dengan gambaran kita. Apakah kita setuju
dengan pacaran? Dan apakah dia membawakan dirinya ke luar seperti itu
juga? Ini menjadi pertanyaan kita. Apakah dia setuju dan yakin bahwa
ujian akhir nasional itu merupakan tolok ukur kecerdasannya? Apakah
dunia luar memang memasok pikiran seperti itu? Dan bagaimana kita
menganggap ujian akhir nasional itu untuk dia?
Secara
gampangnya, lagi-lagi konsep diri yang kita bangun dalam hubungan
keseharian kita kepada anak kita itu akan membawa sikap-sikap dia di
masyarakat ataupun di dalam rumah, dan akan membawa kepada dia satu
sikap yang lahir berupa keyakinan diri untuk dia membawakan misi
hidupnya sebagai hamba Allah kelak yang akan menjadi manusia dewasa. Ini
dilakukan menjelang dia dewasa (sekitar usia 14, 15, 16 tahun).
Apa yang harus kita lakukan sebagai konsekuensi dari citraan-citraan (jati diri) anak kita?
Yang pertama,
kita memberikan pemahaman (menemani dia untuk memahami dirinya
sendiri), bahwa dia (jiwa, fisik, dan ruhaninya) itu berubah. Kita
menemani dan memahami dia, sehingga kita tidak complain dan
tidak bingung. Kalau kita sudah memahami anak kita, berarti komunikasi
kita dengan anak kita itu dapat dikatakan jernih, tidak ada kesal yang
berlebihan, dan juga tidak ada marah. Sehingga kita dapat melihat
sikapnya, apakah dia itu bengal, frustasi, dan sebagainya. Pada usia 14 –
21 tahun ini kita percaya bahwa dia sudah membangun dunianya sendiri,
yang dunianya itu berbeda sama sekali dengan dunia kita.
Yang kedua,
kita mempersiapkan si anak agar dirinya siap menjadi anggota sosial
dari masyarakat. Kita mencoba untuk menerjunkan dia menjadi salah satu
anggota masyarakat yang mengerti bahwa dia memang hidup di antara
masyarakat.
Yang ketiga,
kita mempersiapkan anak kita untuk menjadi wirausahawan. Dalam hal ini,
tidak harus kita mempersiapkannya menjadi pebisnis. Tapi dengan cara
ini, bagaimana kita mempersiapkan anak kita untuk menjadi manusia yang
mandiri.
Yang keempat,
kita memanggil anak-anak kita dengan panggilan calon ayah ataupun calon
ibu. Dalam hal ini, sebenarnya kita mempersiapkan anak kita itu untuk
menjadi suami ataupun istri yang baik yang tidak akan menyusahkan istri
atau suaminya nanti. Ini penting, karena memang kelak anak-anak kita
akan menjadi orang tua seperti kita, yang nantinya mereka akan
menurunkan generasi-generasi penerus bangsa ini. Yang harus ditanamkan
untuk mempersiapkan mereka menjadi suami atau istri yang baik itu antara
lain: Pertama, agar mereka menjaga pandangannya. Kedua, tidak ikhtilaf (tidak bercampur baur) antara laki-laki dengan perempuan. Ketiga, jangan bersentuh kulit laki-laki dengan perempuan.
Semoga Allah terus memberikan HidayahNYA kepada kita semua.......Amin.......
mohon maaf atas segala kekurangan.......
kritik dan saran sangat kami harapkan...........
Tidak ada komentar:
Posting Komentar