Kebahagiaan rumah tangga tidak terjadi secara kebetulan
Rumah dan Keluarga
Keindahan rumah dalam kebersihan
Kebahagiaan rumah dalam ibadah
Kekayaan rumah dalam keceriaan
Kemuliaan rumah dalam keakraban
Kehangatan rumah dalam cinta
Keindahan rumah dalam kebersihan
Kebahagiaan rumah dalam ibadah
Kekayaan rumah dalam keceriaan
Kemuliaan rumah dalam keakraban
Kehangatan rumah dalam cinta
Setiap manusia mendambakan kehidupan yang tenang dan tenteram. Ajaran
Islam adalah ajaran yang sesuai dengan fitrah manusia. Islam
menyediakan wadah bagi umatnya untuk mencapai ketenangan dan
ketenteraman, sembari memberikan resep dan teladan dengan wujud
utusan-utusannya yaitu Nabi Muhammad saw dan Ahul Baitnya as. Wadah itu
dalam bentuk keluarga (rumah tangga).
Mengingat rumah tangga adalah bagian terkecil dari kehidupan sosial,
maka ia adalah penentu keselamatan dan kesehatan kehidupan masyarakat.
Rumah tangga yang baik akan menghasilkan masyarakat yang baik.
Rumah tangga yang porak-poranda akan menghasilkan masyarakat yang porak-poranda juga.
Rumah tangga yang porak-poranda akan menghasilkan masyarakat yang porak-poranda juga.
Oleh karenanya, masing-masing anggota keluarga
memiliki peran penting dalam mewujudkan kesehatan jiwa sesamanya
terutama suami/istri terhadap pasangan hidupnya, ayah dan ibu terhadap
anak-anaknya. Tentunya sebelum suami/istri menyediakan sarana kesehatan
jiwa buat pasangan hidup dan anak-anaknya, ia sendiri mampu membuktikan
bahwa dirinya memiliki jiwa yang sehat.
Seseorang dikatakan memiliki jiwa yang sehat, bila ia mampu
berkomunikasi secara baik dengan sesamanya. Seseorang dikatakan berjiwa
sehat, bila anggota keluarga, tetangga, masyarakat umum merasa tenang
dengan keberadaan dan perilakunya, orang lain tidak tersiksa dengan
ucapan dan amal perbuatannya.
Pengaruh kesehatan jiwa tidak hanya terbatas pada kehidupan duniawi
saja, tapi juga sangat menentukan kehidupan ukhrawi seseorang. Oleh
karena itu dalam hadis Nabi Muhammad saw dikatakan: “Orang yang ditakuti
karena mulutnya adalah penghuni neraka”.
Orang lain takut bukan karena wibawa dan kehormatannya, tapi takut
karena jangan sampai terkena bisa mulutnya. Tentu saja orang yang
berwibawa bukan ditakuti, tapi disegani. Sementara orang yang mulutnya
bagaikan bisa ular dijauhi masyarakat sekitarnya karena sengatan
kata-katanya yang menyakitkan hati sesamanya; orang semacam ini tidak
memiliki kesehatan jiwa.
Korban pertama orang yang tidak memiliki kesehatan jiwa adalah
pasangan hidup dan anak-anaknya, kemudian tetangga dan masyarakat
lainnya.
Dalam tulisan ini kita akan mengkaji bagaimana seseorang bisa
mencapai kebahagiaan rumah tangga. Apakah kebahagiaan bisa didapatkan
secara tiba-tiba atau perlu adanya usaha untuk itu? Setiap orang baik
pasti mendambakan calon pasangan hidup yang baik yang bisa membawanya
menuju kesempurnaan. Namun, kesempurnaan di sini kembali kepada
masing-masing pribadi. Adakalanya mencari pasangan hidup yang baik untuk
mencapai kesempurnaan materi. Adakalanya untuk mencapai kesempurnaan
maknawi.
Bila dalam al-Quran dikatakan bahwa “Wanita-wanita yang keji adalah
untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat
wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk
laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita
yang baik (pula)”, bukan berarti bahwa setiap suami atau istri yang
baik, pasti istri atau suaminya juga baik dan masuk surga.
Karena Nabi
Nuh dan Nabi Luth as termasuk orang-orang yang baik tetapi istri-istri
mereka orang-orang yang jelek dan ahli neraka. Begitu pula Asiyah,
wanita baik-baik, namun ia bersuamikan Fir’aun yang kafir dan mengaku
sebagai tuhan.
Baik di sini adalah sifat yang “sesuai” yang dipergunakan untuk
harta, anak, keturunan, makanan, suami atau istri, pohon, ucapan dan
sebaginya. Sebaliknya, jelek juga sebuah sifat yang bisa digunakan untuk
hal-hal tersebut. “Sesuai” di sini juga boleh jadi bermakna sepaham dan
seide. Yakni secara alami manusia akan mencari orang-orang yang sepaham
dan seide dengannya. Dan pada dasarnya orang-orang yang baik akan
mencari orang-orang yang baik pula. Sebaliknya orang-orang yang jelek
akan mencari orang-orang yang jelek pula.
Dalam Islam, perkawinan yang sukses adalah perkawinan yang didasari
dengan modal spiritualitas. sementara modal materi seperti kekayaan dan
kecantikan dan lain-lain, ada pada urutan kedua.
Seorang laki-laki atau perempuan yang menjalin ikatan suci perkawinan,
pada hakikatnya ia telah menerima seorang partner hidup bagi dirinya.
Partner dalam agama dan keyakinannya, partner dalam harta kekayaan dan
rahasia-rahasianya dan lain-lain.
Pertanyaannya di sini adalah apakah partner yang demikian ini bisa
didapatkan tanpa adanya riset terlebih dahulu? Apakah hanya dengan dasar
cinta saja pasangan suami istri akan mencapai kebahagiaan?
Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw meminta saran tentang
perkawinannya. Rasulullah saw bersabda: “Kawinlah, namun usahakan
mendapat istri yang beragama agar kamu bahagia”.
Ibrahim Karakhi salah seorang sahabat Imam Shadiq as. Ia sering
menghadap Imam as dan menanyakan masalah-masalah kehidupannya kepada
beliau. Suatu hari ia meminta pendapat Imam as: “Wahai putra Rasulullah!
Saya ada rencana untuk kawin”. Imam Shadiq as berkata: “Telitilah!
Pikirkan dan kajilah di mana kamu meletakkan dirimu? Siapakah yang kamu
jadikan partner dalam hartamu? Siapakah yang kamu beri tahu tentang
agama dan rahasiamu? Kalau memang kamu memutuskan untuk kawin, maka
kawinlah dengan gadis yang berasal dari keluarga baik-baik dan terkenal
berbudi pekerti yang baik. Ketahuilah bahwa sebagaimana penyair
mengatakan, “Dalam penciptaannya wanita-wanita itu berbeda, sebagian
mereka adalah kekayaan dan modal kebahagiaan, dan sebagian mereka adalah
penyebab azab dan kesengsaraan. Sebagian mereka adalah bulan purnama
yang terang, dan sebagian mereka adalah kegelapan. Barang siapa yang
mendapat istri yang tepat dan layak, maka ia dijamin bahagia. Dan barang
siapa yang salah memilih istri, maka kesengsaraannya tidak bisa diganti
Tanda-tanda istri yang baik yang disebutkan dalam riwayat banyak sekali di antaranya; sebaik-baik istri-istri kalian adalah:
1. Yang penuh kasih sayang.
2. Yang subur dan bisa memberikan keturunan.
3. Saleh dan terjaga kemuliaannya.
4. Terhormat di tengah-tengah keluarganya.
5. Tawadu di hadapan suaminya.
6. Merias dirinya dengan sebaik-baik riasan di hadapan suaminya.
7. Menutup dirinya dari pandangan laki-laki bukan muhrim.
8. Menaati suami dan menghargai ucapannya.
1. Yang penuh kasih sayang.
2. Yang subur dan bisa memberikan keturunan.
3. Saleh dan terjaga kemuliaannya.
4. Terhormat di tengah-tengah keluarganya.
5. Tawadu di hadapan suaminya.
6. Merias dirinya dengan sebaik-baik riasan di hadapan suaminya.
7. Menutup dirinya dari pandangan laki-laki bukan muhrim.
8. Menaati suami dan menghargai ucapannya.
Sebaik-baik wanita adalah wanita yang membuat suaminya senang saat
memandangnya, dan menaati suaminya saat diperintah, dan menjaga
kehormatan dan harta suaminya saat suaminya tidak ada di rumah. Tentu
saja menaati suami di sini adalah bila tidak bertentangan dengan syariat
Islam.
Salah satu tugas istri adalah bersikap baik terhadap suaminya. Istri
harus bersikap sedemikian rupa sehingga setiap saat suaminya masuk
rumah, ia merasakan ketenangan. Dalam hadis dikatakan bahwa jihadnya
perempuan adalah bersikap baik terhadap suaminya.
Kita bisa melihat bagaimana kehidupan rumah tangga Imam Ali bin Abi
Thalib dengan Sayyidah Fathimah Zahra as. Rasulullah saw bertanya kepada
Imam Ali keesokan harinya setelah Sayyidah Fathimah Zahra as dibawa ke
rumahnya: “Bagaimana kamu mendapati Fathimah?” Imam Ali menjawab: “Dia
adalah partner yang baik dalam ketaatan kepada Allah”. Pada saat yang
sama Sayyidah Fathimah adalah istri yang sabar menghadapi segala
kekurangan dan tidak pernah mengeluh. Suatu pagi Imam Ali berkata kepada
Sayyidah Fathimah Zahra: “Adakah sesuatu yang bisa kau berikan kepadaku
untuk kumakan?” Sayyidah Fathimah menjawab: “Tidak ada, sudah dua hari
kita tidak memiliki sesuatu, kecuali yang aku berikan kepadamu, dan aku
lebih mengutamakanmu daripada anak-anakku”. Imam Ali berkata: “Mengapa
kamu tidak meminta kepadaku sehingga aku sediakan sesuatu untukmu?”.
Sayyidah Fathimah menjawab: “Aku malu kepada Tuhanku jika aku
membebanimu dengan sesuatu di luar kemampuanmu”. Imam Ali as berkata:
“Demi Allah! Aku tidak pernah marah terhadap Zahra as sampai Allah
mengambilnya kembali, dan dia juga tidak pernah marah terhadapku dan
tidak pernah membuatku marah. Setiap saat aku memandang wajah Fathimah
as, maka hilanglah semua kesedihanku”
Imam Shadiq as bersabda: “Ada tiga hal yang harus diperhatikan oleh suami:
Pertama, suami menyetujui istrinya (dalam masalah-masalah kehidupan
duniawi). Karena hal ini akan membuat istrinya tertarik dan bertambah
kadar kasih sayangnya, sehingga ia juga tidak bersikeras dengan
kemauannya. Katakanlah sang istri suka warna hijau sementara suami suka
warna kuning. Keduanya berencana memasang gorden rumah. Untuk menarik
perhatian istri, suami bisa mengalah dan menyetujui kesukaan istri
memasang gorden warna hijau, misalnya dengan mengatakan, “terserah kamu,
kamu suka warna yang mana!” Atau sebaliknya, istri mengalah dan
menyetujui keinginan suami. Bila masing-masing bersikeras mempertahankan
kemauannya, maka rumah tidak akan bergorden.
Ada cerita pendek, suatu hari pasangan suami istri datang ke klinik
untuk melaksanakan imunisasi bayinya yang belum lama lahir. Anak sampai
usia seminggu belum diberi nama, karena masing-masing keduanya
bersikeras mempertahankan nama yang dipilih untuk anak perempuannya.
Setelah kelahiran anak, bukannya senang, malah ribut karena rebutan nama
untuk anaknya
.
Kedua, berakhlak baik terhadap istrinya. Bila karakter seorang
laki-laki memang berakhlak mulia, maka mudah baginya berperilaku baik
terhadap istrinya. Jika karakternya bukan berakhlak mulia, maka ia harus
melatih dirinya berakhlak mulia agar terbiasa berakhlak mulia.
Begitu pula sebaliknya istri juga harus berakhlak mulia terhadap
suaminya, baik di tempat khusus seperti rumah maupun di tempat umum.
Suami atau istri yang tidak berakhlak mulia terhadap pasangan hidupnya
di tempat umum, ia telah menjatuhkan kehormatan suaminya di hadapan
orang lain. Dalam hal ini Imam Hasan as mengatakan: “Kawinkanlah anak
perempuanmu dengan laki-laki yang bertakwa. Karena, jika ia mencintai
anakmu, ia akan menghormatinya, dan kalau ia tidak mencintainya, maka ia
tidak akan menzalimi anakmu”.
Ketiga, menjaga kerapian pakaian, rambut dan penampilan untuk menarik
perhatian istrinya. Karena istri sebagai manusia yang berperasaan, ia
senang bila suaminya berpenampilan rapi.
Dalam riwayat Ahlul Bait as, laki-laki atau perempuan yang memiliki
ciri-ciri sebagai berikut bisa menjadi pasangan hidup yang baik:
1. Beragama.
2. Berbudi pekerti luhur.
3. Komitmen dengan hukum-hukum ilahi.
1. Beragama.
2. Berbudi pekerti luhur.
3. Komitmen dengan hukum-hukum ilahi.
Rasulullah saw menyebutkan ciri-ciri seorang muslim yang baik sebagai berikut:
1. Bertakwa.
2. Saleh dan terjaga kemuliaannya.
3. Dilahirkan dari ayah dan ibu yang sehat.
4. Terhormat di tengah-tengah keluarganya.
5. Berprilaku baik terhadap kedua orang tuanya.
6. Tidak membuat istrinya butuh kepada orang lain.
1. Bertakwa.
2. Saleh dan terjaga kemuliaannya.
3. Dilahirkan dari ayah dan ibu yang sehat.
4. Terhormat di tengah-tengah keluarganya.
5. Berprilaku baik terhadap kedua orang tuanya.
6. Tidak membuat istrinya butuh kepada orang lain.
Perkawinan berarti mengalungkan lingkaran hidup bersama. Sebelum
memutuskan untuk kawin, seseorang harus teliti, jangan sampai
mengalungkan lingkaran hidup yang buruk yang membuat ia sengsara selama
hidup. Istri atau suami yang berakhlak buruk, berlidah tajam, suka marah
dan cemberut, menguasai pasangan hidupnya, membuat hidup pasangannya
menjadi pahit dan tidak menyenangkan. Rumah baginya adalah penjara
bahkan lebih buruk dari penjara. Oleh karena itu sebelum memutuskan
untuk kawin seseorang harus meneliti siapa calon istri atau suaminya
dengan bantuan sesepuh keluarganya yang lebih berpengalaman. Karena
kebahagiaan sebuah rumah tangga tidak terjadi secara kebetulan tetapi
bergantung pada usaha setiap orang, apakah ia berhasil mendapatkan
pasangan hidup yang baik atau tidak. Terutama wanita, ia banyak meniru
dan mengikuti karakter ibunya. oleh karena itu, pepatah mengatakan,
“bila mau mengambil menantu wanita, maka lihatlah karakter dan akhlak
ibunya!”. Karena hal ini sangat berperan dalam kehidupan rumah tangga
seseorang.
Tidak sedikit perkawinan yang diakhiri dengan perceraian karena tidak
adanya kecocokan, terutama dalam masalah akhlak, perilaku dan selera.
Istri atau suami yang berakhlak buruk ketika masih hidup bersama akan
menyebabkan kesengsaraan pasangan hidupnya. Kehidupan bagi pasangan yang
bertahan menghadapi keburukan akhlak pasangannya bagaikan jahanam.
Dunia baginya tidak menyenangkan. Karena satu-satunya tempat tinggal
baginya adalah rumah, bagaimana tidak seperti jahanam bila menghadapi
pasangan hidup yang berakhlak buruk. Bahkan bila terjadi perceraian,
Kesengsaraan ini tidak berhenti sampai di sini, melainkan berlanjut
dengan berbagai macam bentuk; seperti rebutan mengasuh anak. Anak
menjadi korban keegoisan kedua orang tuanya. Ia tidak berdosa mengapa
harus menjadi korban keburukan akhlak orang tuanya yang sudah cerai.
Oleh karena itu kesengsaraan yang diakibatkan oleh salah pilih
istri/suami buntutnya tidak berhenti dengan perceraian tetapi akan
berlanjut bahkan boleh jadi tidak ada akhirnya. Mulai dari korban anak,
korban perasaan, depresi yang dihadapi oleh orang-orang yang baru cerai
sampai kejahatan yang dilakukan anak korban perceraian. Tidak sedikit
fenomena kejahatan dan penyimpangan sosial yang dilakukan oleh anak-anak
korban perceraian.
Orang tua yang mengerti, kalaupun terjadi perceraian, mereka akan
meminimalkan dampak perceraiannya atas anak-anak yang mereka lahirkan.
Dengan tidak mengikut sertakan anak-anak pada masalah yang mereka hadapi
berdua.
Kesimpulan; kebahagiaan tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan
bisa didapat dengan program dan perencanaan serta riset sebelum terjadi
ikatan perkawinan. Karena dengan program dan riset kebahagiaan itu tidak
saja akan dirasakan oleh pasangan suami/istri melainkan anak-anak
mereka juga akan merasakannya yang berujung kepada kebahagiaan dan
keharmonisan masyarakat. Karena keluarga adalah bagian terkecil dari
masyarakat. Jika setiap keluarga bisa merasakan kebahagiaan, maka
masyarakat juga akan merasakan kebahagiaan.
Teladan keluarga bahagia bagi umat manusia adalah keluarga Imam Ali
dan Sayyidah Zahra as yang menghasilkan manusia-manusia suci dan
penghulu para pemuda di surga.
Semoga bermanfaat.......Amiiinnn......
Semoga bermanfaat.......Amiiinnn......
Nahjul Fashahah, terjemah Ibrahim Ahmadian, penerbit Sahabuddin, Qom, 1385 hal 313, hadis 3066.
. QS. An-Nur [24]: 26.
. Wasail Asa-Syiah, jilid 14, hal 14.
. Furu Kafi, jilid 5.
. Wafi, jilid 12, hal 14.
. Nahj Al-Fashahah, hal 569.
. Bihar al-Anwar, jilid 43, hal 117.
. Tuhaful Uqul, edisi Persia, terjemah dan tahqiq, Shadeq Hasan Zadeh, Qom, 1385, cet ke 5.
. Bihar al-Anwar, jilid 75, hal 237.
. Makarim al-Akhlak, 1408 hal 214.
. QS. An-Nur [24]: 26.
. Wasail Asa-Syiah, jilid 14, hal 14.
. Furu Kafi, jilid 5.
. Wafi, jilid 12, hal 14.
. Nahj Al-Fashahah, hal 569.
. Bihar al-Anwar, jilid 43, hal 117.
. Tuhaful Uqul, edisi Persia, terjemah dan tahqiq, Shadeq Hasan Zadeh, Qom, 1385, cet ke 5.
. Bihar al-Anwar, jilid 75, hal 237.
. Makarim al-Akhlak, 1408 hal 214.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar