Mengejutkan, Tidak Semua Anak Bisa Dipuji
Oleh Elise Sole
Saat anak Anda memperoleh prestasi di sekolah, naluri orangtua mungkin
mendorong Anda untuk memberi pujian kepada mereka (“Kau hebat!”), namun
menurut tinjauan lebih lanjut dari tiga studi yang diterbitkan dalam
jurnal Psychological Science, pujian tersebut bisa jadi tak bermanfaat
bagi anak.
Studi tersebut melibatkan anak-anak yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan anak-anak yang memiliki rasa percaya diri yang rendah, serta meneliti fenomena yang disebut “pujian besar” - merupakan pujian yang benar-benar berlebihan seperti kata-kata, “sangat” atau “benar-benar.” Contohnya, “Kau lulus ujian dengan sangat hebat” atau “Ini benar-benar hebat.” Secara mengejutkan, hasilnya menunjukkan bahwa anak-anak dengan percaya diri yang tinggi merasa tersanjung dengan pujian semacam ini, sementara anak-anak yang memiliki rasa percaya diri yang rendah merasa terluka oleh pujian itu.
“Orangtua cenderung percaya bahwa anak-anak yang kurang percaya diri perlu mendengarkan pujian lebih, tapi sebenarnya tidak,” kata Brad J. Bushman, Ph.D., salah satu penulis studi yang merupakan seorang profesor komunikasi dan psikologi di Ohio State University, kepada Yahoo Shine. “Ada dua alasan: Anak-anak yang tidak percaya diri mungkin percaya bahwa mereka tidak melakukan hal baik apa pun, dan pujian besar mencegah mereka untuk mengambil risiko baru karena mereka merasa sudah cukup membuat pencapaian.” Sebaliknya, memberikan pujian kepada anak-anak yang percaya diri akan mendorong mereka untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. “Mereka cenderung berpikir, ‘jika saya bisa melakukan satu hal dengan baik, saya mungkin bisa melangkah lebih jauh,’” kata Bushman.
Mendorong anak-anak dengan kepercayaan diri rendah dapat dapat mudah dilakukan dengan tidak memberi pujian berlebihan itu, namun Bushman punya saran untuk semua orangtua: “Saat memuji anak, fokuslah pada pekerjaan yang mereka lakukan, bukan pada kepribadian anak itu,” katanya. Dengan kata lain, katakan kepada anak Anda yang mendapat nilai “A” di kelas seni. Daripada mengatakan, “Kau benar-benar seorang seniman yang hebat,” fokuslah dengan memuji hasil lukisan itu sendiri dengan mengatakan, “Ini adalah lukisan yang sangat bagus. Kamu menggunakan warna-warna yang cerah dan sangat teliti.” Dengan begitu, jika anak Anda kemudian membuat karya yang kurang bagus, dia akan percaya bahwa dia adalah seorang seniman yang baik. Dan jangan ragu, menyematkan salah satu hasil karya anak Anda di pintu lemari es adalah ide yang sangat baik.(kn/nh)
Studi tersebut melibatkan anak-anak yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan anak-anak yang memiliki rasa percaya diri yang rendah, serta meneliti fenomena yang disebut “pujian besar” - merupakan pujian yang benar-benar berlebihan seperti kata-kata, “sangat” atau “benar-benar.” Contohnya, “Kau lulus ujian dengan sangat hebat” atau “Ini benar-benar hebat.” Secara mengejutkan, hasilnya menunjukkan bahwa anak-anak dengan percaya diri yang tinggi merasa tersanjung dengan pujian semacam ini, sementara anak-anak yang memiliki rasa percaya diri yang rendah merasa terluka oleh pujian itu.
“Orangtua cenderung percaya bahwa anak-anak yang kurang percaya diri perlu mendengarkan pujian lebih, tapi sebenarnya tidak,” kata Brad J. Bushman, Ph.D., salah satu penulis studi yang merupakan seorang profesor komunikasi dan psikologi di Ohio State University, kepada Yahoo Shine. “Ada dua alasan: Anak-anak yang tidak percaya diri mungkin percaya bahwa mereka tidak melakukan hal baik apa pun, dan pujian besar mencegah mereka untuk mengambil risiko baru karena mereka merasa sudah cukup membuat pencapaian.” Sebaliknya, memberikan pujian kepada anak-anak yang percaya diri akan mendorong mereka untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi. “Mereka cenderung berpikir, ‘jika saya bisa melakukan satu hal dengan baik, saya mungkin bisa melangkah lebih jauh,’” kata Bushman.
Mendorong anak-anak dengan kepercayaan diri rendah dapat dapat mudah dilakukan dengan tidak memberi pujian berlebihan itu, namun Bushman punya saran untuk semua orangtua: “Saat memuji anak, fokuslah pada pekerjaan yang mereka lakukan, bukan pada kepribadian anak itu,” katanya. Dengan kata lain, katakan kepada anak Anda yang mendapat nilai “A” di kelas seni. Daripada mengatakan, “Kau benar-benar seorang seniman yang hebat,” fokuslah dengan memuji hasil lukisan itu sendiri dengan mengatakan, “Ini adalah lukisan yang sangat bagus. Kamu menggunakan warna-warna yang cerah dan sangat teliti.” Dengan begitu, jika anak Anda kemudian membuat karya yang kurang bagus, dia akan percaya bahwa dia adalah seorang seniman yang baik. Dan jangan ragu, menyematkan salah satu hasil karya anak Anda di pintu lemari es adalah ide yang sangat baik.(kn/nh)
Senin, 28 Safar 1435 H / 31 Desember 2012 05:44 wib
Inilah Alasan Kenapa Orang Islam Haram Merayakan Tahun Baru Masehi
Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada baginda Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Tahun
baru masehi pada zaman kita ini dirayakan dengan besar-besaran. Suara
terompet dan tontonan kembang api hampir menghiasi seluruh penjuru dunia
di barat dan di timurnya. Tidak berbeda negara yang mayoritas
penduduknya kafir ataupun muslim. Padahal, perayaan tersebut identik
dengan hari besar orang Nasrani.
Banyak
keyakinan batil yang ada pada malam tahun baru. Di antaranya, siapa
yang meneguk segelas anggur terakhir dari botol setelah tengah malam
akan mendapatkan keberuntungan. Jika dia seorang bujangan, maka dia akan
menjadi orang pertama menemukan jodoh dari antara rekan-rekannya yang
ada di malam itu. Keyakinan lainnya, di antara bentuk kemalangan adalah
masuk rumah pada malam tahun tanpa membawa hadiah, mencuci baju dan
peralatan makan pada hari itu adalah tanda kesialan, membiarkan api
menyala sepanjang malam tahun baru akan mendatangkan banyak
keberuntungan, dan bentuk-bentuk khurafat lainnya.
Sesungguhnya
keyakinan-keyakinan batil tersebut diadopsi dari keyakinan batil
Nasrani. Yang hakikatnya, mengadopsi dan meniru budaya batil ini adalah
sebuah keharaman. Karena siapa yang bertasyabbuh (menyerupai) kepada
satu kaum, maka dia bagian dari mereka.
- See more at:
http://www.voa-islam.com/read/tsaqofah/2012/12/31/22571/inilah-alasan-kenapa-orang-islam-haram-merayakan-tahun-baru-masehi/#sthash.5uxYnJJC.7HBgqVhz.dpuf
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar